KURIKULUM 1975
KURIKULUM
1975
Kurikulum
1975 merupakan salah satu kurikulum penting dalam sejarah pendidikan di
Indonesia. Kurikulum ini menandai pergeseran paradigma dalam pengembangan
kurikulum, dengan penekanan yang kuat pada efektivitas dan efisiensi dalam
mencapai tujuan pendidikan. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai Kurikulum
1975.
LATAR
BELAKANG
Kelahiran
Kurikulum 1975 dilatarbelakangi oleh beberapa faktor utama:
1. Pengaruh
Konsep Manajemen (MBO): Adanya pengaruh konsep Management by
Objective (MBO) yang populer saat itu. Konsep ini menekankan pada perumusan
tujuan yang jelas, terukur, dan dapat dicapai.
2. Tuntutan
Pembangunan Nasional: Pembangunan nasional yang pesat sejak Pelita
I (1969) membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan relevan dengan
kebutuhan pembangunan.
3. Evaluasi
Kurikulum Sebelumnya (Kurikulum 1968): Kurikulum 1968 dinilai masih
bersifat teoretis dan kurang mengaitkan dengan permasalahan faktual di
lapangan. Terdapat kebutuhan untuk meninjau ulang dan menyempurnakan kurikulum
agar lebih fungsional dan efektif.
4. Adanya
Gagasan Baru dan Inovasi: Timbulnya gagasan-gagasan baru tentang
pelaksanaan sistem pendidikan nasional dan adanya inovasi dalam sistem belajar
mengajar yang dianggap lebih efisien dan efektif.
5. Keluhan
Masyarakat: Adanya keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan yang
kurang sesuai dengan kebutuhan.
TUJUAN
Tujuan
utama Kurikulum 1975 adalah membuat pendidikan lebih efektif dan efisien.
Tujuan ini dirinci dalam hierarki tujuan pendidikan yang jelas:
1. Tujuan
Pendidikan Nasional (TPN): Tujuan umum pendidikan di Indonesia.
2. Tujuan
Institusional (TI): Tujuan yang harus dicapai oleh setiap jenis
dan jenjang lembaga pendidikan (misalnya, tujuan untuk SD, SMP, SMA).
3. Tujuan
Kurikuler (TK): Tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata
pelajaran.
4. Tujuan
Instruksional Umum (TIU): Tujuan yang lebih spesifik dari tujuan
kurikuler, yang menggambarkan kemampuan yang harus dicapai siswa setelah
mengikuti satu unit atau topik pembelajaran.
5. Tujuan
Instruksional Khusus (TIK): Tujuan yang sangat spesifik dan terukur,
merinci tingkah laku atau kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah
menyelesaikan satu kegiatan belajar-mengajar. TIK inilah yang menjadi fokus
utama dalam perancangan pembelajaran pada kurikulum ini, dengan dirumuskan
dalam bentuk tingkah laku siswa yang dapat diukur.
Secara
umum, kurikulum ini berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes)
dan berupaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas,
terampil, serta memiliki fisik yang sehat dan kuat, sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila.
DASAR
HUKUM
Dasar
hukum Kurikulum 1975 secara spesifik adalah:
1. GBHN
(Garis-Garis Besar Haluan Negara) 1973: Kebijakan pemerintah di bidang
pendidikan nasional yang menggariskan perlunya pengejaran ketinggalan di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat laju pembangunan.
2. Surat
Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 079/10/1975:
Mendirikan Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan yang bertugas
merancang dan mengembangkan kurikulum.
3. Undang-Undang
Dasar 1945: Mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
penyelenggaraan sistem pengajaran nasional.
PRINSIP-PRINSIP
UTAMA
Kurikulum
1975 menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berorientasi
pada Tujuan: Setiap kegiatan pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan
yang telah dirumuskan secara jelas dalam hierarki tujuan pendidikan.
2. Pendekatan
Integratif: Setiap pelajaran atau bidang studi memiliki arti dan peranan
yang saling menunjang untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih integratif.
3. Efisiensi
dan Efektivitas: Penekanan pada penggunaan dana, daya, dan waktu secara efisien
dan efektif untuk mencapai tujuan. Waktu di sekolah harus dimanfaatkan
semaksimal mungkin untuk kegiatan belajar.
4. Menganut
Pendekatan Sistem Instruksional: Dikenal dengan istilah Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). PPSI adalah kerangka kerja yang
sistematis untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Sistem
ini senantiasa mengarah pada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur,
dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
5. Dipengaruhi
Psikologi Tingkah Laku (Behavioristik): Karena tujuan kurikulum ini adalah
perubahan tingkah laku, maka teori belajar yang digunakan adalah teori
behavioristik yang menekankan pada stimulus-respon (rangsang-jawab) dan latihan
(drill).
PERANGKAT
PEDOMAN PELAKSANAAN (PPSI)
Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) adalah perangkat pedoman pelaksanaan
yang sangat sentral dalam Kurikulum 1975. PPSI ini dikenal dengan istilah
"satuan pelajaran" atau "satpel", yaitu rencana pelajaran
setiap satuan bahasan. PPSI memuat rincian tentang apa yang harus dicapai dalam
setiap kegiatan pembelajaran, meliputi:
1. Tujuan
Instruksional Umum (TIU)
2. Tujuan
Instruksional Khusus (TIK): Ini adalah poin krusial yang membuat guru
"sibuk" merinci setiap tujuan pembelajaran dalam bentuk tingkah laku.
3. Materi
Pelajaran: Isi atau substansi yang akan diajarkan.
4. Alat
Pelajaran/Media Pembelajaran: Sumber daya yang digunakan untuk mendukung
proses belajar.
5. Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM): Prosedur atau langkah-langkah yang akan
dilakukan dalam proses pembelajaran.
6. Evaluasi:
Penilaian terhadap pencapaian tujuan instruksional, biasanya dilakukan di akhir
pelajaran atau pada akhir satuan pembelajaran.
KESIMPULAN
Kurikulum
1975 merupakan upaya signifikan untuk menata ulang pendidikan di Indonesia agar
lebih terarah, efisien, dan efektif. Dengan penekanan pada perumusan tujuan
yang jelas (TIK) dan penggunaan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional
(PPSI), kurikulum ini berupaya mencapai standar yang lebih terukur dalam proses
belajar-mengajar.
Namun,
kurikulum ini juga banyak mendapatkan kritik di lapangan. Salah satu kritik
utama adalah guru menjadi sangat sibuk merinci tujuan instruksional khusus
untuk setiap kegiatan pembelajaran, yang terkadang terasa sangat birokratis dan
membebani. Meskipun demikian, Kurikulum 1975 menjadi peletak dasar penting bagi
pengembangan kurikulum di Indonesia selanjutnya, terutama dalam pendekatan
berbasis tujuan dan sistematis. Kurikulum ini juga sering disebut
"Kurikulum 1975 yang disempurnakan" ketika Kurikulum 1984 muncul,
menunjukkan adanya kesinambungan dalam perbaikan sistem pendidikan.
CONTOH RPP
PADA MASA KURIKULUM 1975
SATUAN
PELAJARAN (SATPEL) / PPSI
Mata
Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) / Fisika
Kelas/Semester: VIII / 2
Pokok
Bahasan: Gaya dan Usaha
Alokasi
Waktu: 2 x 45 menit (1 pertemuan)
I. TUJUAN
INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah
mengikuti pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat memahami konsep dasar gaya
dan usaha serta hubungannya dalam peristiwa sehari-hari.
II. TUJUAN
INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah
mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa diharapkan dapat:
- Menjelaskan pengertian gaya dengan benar.
- Memberikan minimal 3 contoh pengaruh gaya
terhadap suatu benda (misalnya: mengubah bentuk, mengubah arah gerak,
mengubah kecepatan).
- Menjelaskan pengertian usaha dalam fisika
dengan benar.
- Memberikan minimal 2 contoh usaha yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari (misalnya: mendorong meja, mengangkat
beban).
- Menghitung besar usaha jika diketahui
gaya dan perpindahan yang searah dengan menggunakan rumus W = F x s.
- Membedakan antara usaha dan gaya
berdasarkan contoh yang diberikan.
- Menerapkan konsep gaya dan usaha dalam
pemecahan masalah sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
III.
MATERI PELAJARAN
A. Gaya
1.
Pengertian gaya (tarikan atau dorongan).
2.
Pengaruh gaya terhadap benda (mengubah bentuk, arah, kecepatan, posisi).
3. Satuan
gaya (Newton).
B. Usaha
1.
Pengertian usaha dalam fisika (gaya yang menyebabkan perpindahan).
2. Rumus
usaha: W=F×s * W = Usaha (Joule) * F = Gaya (Newton) * s = Perpindahan (meter)
3. Syarat
terjadinya usaha (gaya harus menyebabkan perpindahan, arah gaya dan perpindahan
harus searah).
4. Contoh
usaha dalam kehidupan sehari-hari.
IV. ALAT
PELAJARAN / MEDIA PEMBELAJARAN
- Papan tulis dan kapur/spidol
- Buku pelajaran IPA/Fisika
- Gambar-gambar yang menunjukkan peristiwa
gaya dan usaha (misalnya: orang mendorong gerobak, mengangkat kotak,
memanah)
- Benda-benda sederhana untuk demonstrasi
(misalnya: balok kayu, pegas, timbangan sederhana)
- Alat tulis dan buku catatan siswa
V.
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)
A.
Pendahuluan (10 menit)
- Guru membuka pelajaran dengan salam dan
menanyakan kabar siswa.
- Guru mengulang sedikit pelajaran
sebelumnya yang relevan (jika ada, misalnya tentang gerak).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(TIU dan TIK) kepada siswa secara ringkas.
- Guru memotivasi siswa dengan menanyakan
pengalaman siswa terkait menarik atau mendorong benda dalam kehidupan
sehari-hari.
B.
Kegiatan Inti (70 menit)
- Eksplorasi Konsep Gaya (25 menit)
- Guru mendefinisikan gaya sebagai tarikan
atau dorongan.
- Guru mendemonstrasikan pengaruh gaya
(misalnya: mendorong balok, menekan pegas, menunjukkan gambar benda yang
bergerak dan berhenti karena gaya).
- Guru meminta siswa untuk memberikan
contoh lain pengaruh gaya dalam kehidupan sehari-hari.
- Guru menjelaskan satuan gaya (Newton).
- Siswa mencatat poin-poin penting tentang
gaya.
- Eksplorasi Konsep Usaha (35 menit)
- Guru menjelaskan pengertian usaha dalam
fisika: gaya yang menyebabkan perpindahan searah dengan gaya.
- Guru memberikan contoh aktivitas
sehari-hari yang menunjukkan usaha dan yang bukan usaha (misalnya:
mendorong tembok bukan usaha, mendorong meja hingga berpindah adalah
usaha).
- Guru memperkenalkan rumus usaha: W=F×s.
- Guru menjelaskan setiap komponen rumus
(W, F, s) dan satuannya.
- Guru memberikan contoh soal perhitungan
usaha sederhana di papan tulis dan membimbing siswa untuk
menyelesaikannya.
- Contoh Soal:
Sebuah balok didorong dengan gaya 10 N sehingga berpindah sejauh 5
meter. Berapakah usaha yang dilakukan?
- Guru memberikan beberapa latihan soal
sederhana kepada siswa untuk dikerjakan secara mandiri atau berpasangan.
- Diskusi dan Tanya Jawab (10 menit)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya mengenai materi gaya dan usaha yang belum dipahami.
- Guru memfasilitasi diskusi singkat
mengenai perbedaan antara gaya dan usaha.
C. Penutup
(10 menit)
- Guru bersama siswa merangkum poin-poin
penting dari materi gaya dan usaha.
- Guru memberikan penekanan kembali pada
konsep kunci dan rumus usaha.
- Guru memberikan tugas rumah berupa
latihan soal atau mencari contoh-contoh gaya dan usaha di lingkungan
sekitar.
- Guru mengakhiri pelajaran dengan salam.
VI.
EVALUASI
A.
Prosedur Evaluasi:
- Evaluasi dilakukan selama proses
pembelajaran (observasi partisipasi) dan di akhir pembelajaran (tes
tertulis).
B. Jenis
Evaluasi:
- Tes tertulis (pilihan ganda dan isian
singkat)
- Observasi (selama diskusi dan pengerjaan
latihan)
C. Soal
Evaluasi:
- Apa yang dimaksud dengan gaya?
- Sebutkan 3 pengaruh gaya terhadap suatu
benda!
- Jelaskan pengertian usaha dalam fisika!
- Berikan 2 contoh usaha yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari!
- Sebuah benda ditarik dengan gaya 25 N
sehingga berpindah sejauh 8 meter. Berapakah usaha yang dilakukan oleh
gaya tersebut? (Tunjukkan cara menghitungnya!)
- Mengapa mendorong tembok tidak termasuk
usaha dalam fisika?
VII.
SUMBER BELAJAR
- Buku IPA/Fisika kelas VIII.
- Lingkungan sekitar.
Demikian pembahasan
tentang Kurikulum 1975, dengan harapan kita dapat mengenang kembali kurikulum
yang pernah ada di Indonesia, dan semoga menambah wawasan pada kita sebagai
generasi muda penerus bangsa, terutama
dalam bidang pendidikan.
Daftar
Pustaka :
Tim
Pengembangan Kurikulum Balitbang Dikbud. (1975). Kurikulum 1975: Garis-Garis
Besar Program Pengajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sukmadinata,
Nana Syaodih. (2012). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik,
Oemar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta,
Made. (2017). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Mulyasa,
E. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (1989)

Komentar
Posting Komentar