DIDAKTIK



Penulis :
Lukman Hidayatullah, S.T., M.Pd.
Guru SMKN 2 Kota Serang.

DIDAKTIK

Didaktik berasal dari bahasa Yunani yaitu didaktikes yang berarti pandai mengajar. Didaktik memberikan prinsip-prinsip atau asas-asas dan prosedur mengajar sehingga bahan pelajaran dimengerti atau dikuasai oleh siswa.

Sebenarnya asas-asas didaktik ini harus dikuasai guru sebelum mereka terjun menjadi seorang guru, tetapi ternyata banyak guru yang perlu mengulangi lagi dan memantapkan diri dalam penguasaan didaktik dan metodik.

Didaktik dibagi atas dua, yakni :

1.   Didaktik umum.

Didaktik Umum memberikan asas-asas didaktik.

2.   Didaktik khusus.

Didaktik Khusus atau disebut juga “Metodik”, yakni memberi cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan asas-asas  didaktik.


ASAS – ASAS DIDAKTIK

Asas-asas didaktik adalah petunjuk umum yang menjadi pedoman pokok dalam mengajar. Ada sembilan asas didaktik yang perlu diketahui guru sebagai pegangan dalam melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas yaitu :

1.   Asas Appersepsi.

2.   Asas Minat dan Perhatian.

3.   Asas Peragaan.

4.   Asas Motivasi.

5.   Asas Bekerja Sendiri.

6.   Asas Kooperasi.

7.   Asas Penyesuaian kepada Individu Anak.

8.   Asas Korelasi.

9.   Asas Ulangan yang Teratur.


ASAS APERSEPSI

Apersepsi adalah kegiatan mental dalam mengolah secara aktif tanggapan-tanggapan baru yang dipengaruhi oleh tanggapan yang telah dimiliki siswa.

Agar siswa-siswa mendapat persepsi (pengamatan) dan apersepsi (pemahaman awal) yang terang, jelas dan benar, maka kepada mereka harus diberikan pengalaman langsung (konkret) sebanyak mungkin dalam situasi belajar. Karena itu, asas apersepsi perpegang pada suatu prinsip, bahwa setiap bahan pengajaran yang baru harus berlandaskan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain, tiap-tiap bahan pengajaran harus merupakan lanjutan dari pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya.

Dalam hubungannya dengan apersepsi sekurang-kurangnya ada dua teknik yang dapat digunakan oleh guru.

Pertama, sebelum mengajarkan materi baru, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan bahan pelajaran yang telah diberikan sebelumnya atau yang berhubungan dengan keadaan atau peristiwa sehari-hari. Misalnya akan mengajarkan gaya, maka harus ditanyakan terlebih dahulu konsep gerak benda dan massa benda, dan guru harus dapat menyimpulkan pengetahuan awal anak itu, bila siswa dianggap belum banyak yang menguasai, maka guru harus memberikan latar terlebih dahulu.

Kedua, setelah guru melakukan komunikasi awal, ia melakukan suatu review (peninjauan kembali) terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan memberikan penjelasan atau ulasan singkat mengenai inti dari pelajaran yang telah disajikan untuk dikaitkan dengan bahan pelajaran yang akan disajikannya.


ASAS MINAT DAN PERHATIAN

Antara minat dan perhatian terdapat perbedaan mendasar, namun saling melengkapi. Minat itu lebih bersifat tetap, sedangkan perhatian bersifat temporer (sementara). Antara minat dan perhatian terdapat hubungan   yang bersifat pengaruh-mempengaruhi secara timbal balik. Artinya perhatian yang diperkuat secara terus menerus dapat menjadi minat. Hal  yang diminati anak pasti menarik perhatiannya. Oleh sebab itu guru harus berusaha agar pelajaran menarik perhatian anak. Hal ini agar kehadiran siswa dalam proses belajar mengajar bersifat utuh dalam arti siswa tidak hanya hadir secara fisik, tetapi jiwa mereka juga hadir sepenuhnya di dalam proses itu. Kehadiran siswa seutuhnya dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) menjadi salah satu prakondisi bagi terjadinya komunikasi edukatif yang   efektif antara guru dan siswa-siswanya.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap minat dan perhatian anak, antara Iain :

1. Pemilihan bahan pengajaran

Bahan pengajaran yang dipilih hendaknya sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Misalnya anak yang berumur antara 6 - 7 tahun, beşar sekali perhatiannya terhadap keadaan di sekelilingnya dan akunya. Oleh karena  itü bahan pengajaran harus sesuai dengan dunia disekeliling anak dan kepentingan anak. dengan kata lain, bahwa bahan pengajaran harus setaraf dengan tingkat perkembangan jiwa anak. Di kelas anak harus  banyak bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.

2. Minat dan Perhatian guru

Agar minat dan perhatian siswa timbul dan terarah secara intensif terhadap bahan pengajaran yang disajikan oleh guru, maka guru itü sendiri harus menunjukkan minat dan perhatian yang beşar terhadap  bahan pelajaran tersebut. Guru harus mampu memperlihatkan kegairahan dan kesungguhannya dalam mengajar, serta harus mampu menunjukkan atau menekankan bahwa apa yang tengah disajikannya kepada para  siswa itü bermakna atau penting sekali bagi mereka. Di samping itü guru  juga harus memberikan perhatian yang memadai kepada para siswanya baik secara verbal maupun non-verbal, termasuk dengan menggunakan pandangan mata atau perhatian distributif kepada mereka.

Sementara itü perhatian yang diberikan guru kepada para siswa seyogyanya disesuaikan dengan perbedaan individual antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.

3. Cara guru mengajar

Untuk ini diperlukan penguasaan bahasa yang baik, penguasaan bahan yang mantap, pemilihan dan penggunaan metode mengajar yang tepat, contoh-contoh yang sesuai dengan dunia anak dan variasi-variasi mengajar yang hidup tapi wajar. şuara guru harus jelas dan bervariasi, şuara guru yang kurang jelas dan monoton dapat memperlemah perhatian siswa.   Bahkan şuara guru semacam itü dapat membuat siswa-siswa mengantuk atau mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal di luar konteks belajar mengajar.

4. Kepribadian Guru

Faktor kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap minat dan perhatian anak dalam belajar. Penampilan sifat keramah-tamahan, kegembiraan, keterbukaannya, bahkan kepercayaan dan rasa kasih sayangnya harus tercermin dalam sikap dan tindakannya. Kewibawaan guru dan hubungan baik antara guru dengan Siswa juga dipengaruhi Oleh faktor kepribadian guru. Guru tidak boleh berkepribadian labil dan otoriter. Guru harus mempunyai rasa kasih sayang dan adil terhadap para siswanya sehingga dalam diri Siswa timbul kepercayaan dan kasih sayang terhadapnya, yang pada akhimya mereka mau dan berusaha memperhatikan apa yang disajikan guru kepada mereka.


ASAS PERAGAAN

Asas peragaan ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

 1. Pengajaran akan lebih menarik (dapat membangkitkan minat dan perhatian anak) apabila disertai dengan contoh-contoh yang dapat diperagakan.

2. Membantu memperjelas pengertian tentang sesuatu, lebih-lebih untuk anak-anak yang taraf berfikir mereka masih berada pada tingkat konkret. Karena sesuatu yang diamati, diraba, dicium, dilihat, didengar, dan dikecap, akan lebih jelas serta berkesan daripada hanya diceritakan saja. Mereka belum dapat menyerap yang abstrak.

3. Mencegah verbalisme (Anak-anak hafal tentang kata-kata, tetapi ia tidak memahami dari kata-kata tersebut).

Dari ketiga pertimbangan di atas, pertimbangan yang kedua perlu mendapat perhatian yang khusus,sebab pertimbangan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari tujuan peragaan itu sendiri. Peragaan hendaknya diberikan secara wajar. Artinya, tidak berlebih-lebihan. Kita harus mengetahui apakah sesuatu itu perlu diragakan atau tidak. Alat peraga harus dilihat juga dari faktor ekonomis. Artinya alat peraga dapat digunakan untuk beberapa pokok bahasan atau dapat juga digunakan untuk mata pelajaran Iain. Peragaan itu dapat dibagi dalam dua macam, yaitu :

§  Peragaan langsung

Pada peragaan ini, anak dihadapkan kepada benda atau situasi yang sesungguhnya untuk diamati atau dialami.

Contoh : Mengamati rangka manusia (baik rangka asli, replika, atau model 3D).

 

§  Peragaan tak langsung

Pada peragaan ini, anak dihadapkan kepada tiruan, model, maupun gambar dari suatu benda atau situasi.

Contoh : Video atau Film Dokumenter, Gambar atau Foto, Animasi atau Simulasi Komputer, Grafik dan Diagram, Rekaman Audio.


ASAS MOTIVASI

Motivasi adalah usaha guru untuk membangkitkan atau mendorong kemauan anak untuk belajar. Dalam rangka bagaimana menanamkan motivasi tersebut di sekolah, maka guru seyogyanya dapat menjadi motivator yang menerapkan teknik memotivasi yang dilandasi aspek psikologis dan pedagogis. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh teknik memotivasi siswa di sekolah.

1. Memberi angka

Pembinaan prestasi belajar siswa merupakan salah satu tugas utama seorang guru. Tingkat prestasi siswa dapat dilihat dari nilai atau angka yang diperoleh siswa pada setiap mata pelajaran. Prestasi belajar siswa pada setiap mata pelajaran ada yang sama dan ada pula yang berbeda.

Mengetahui angka atau nilai prestasi pada tiap-tiap mata pelajaran pada umumnya merupakan salah satu kesenangan tersendiri bagi siswa, merupakan sebuah kebanggan dan penghargaan. Oleh sebab iłu pemberian nilai  atau angka dapat memotivasi siswa untuk belajar.

Tapi perlu diperhatikan bagi anak yang mendapat angka rendah perlu dibantu dan diberi dorongan serta harapan. Misalnya, jika angka siswa terlalu rendah jangan tuliskan nilai itu, tetapi anak didorong terlebih dahulu untuk memperbaikinya (Remedial). Tindakan ini sangat perlu mendapat perhatian di kelas rendah. Nilai yang dicantumkan jangan sampai memberi kesan   kepada siswa bahwa dia tidak dapat mengerjakannya, atau menyebabkannya sebagai siswa yang bodoh. Guru adalah motivator, siswa adalah generasi muda yang perlu dirangkul dan diber semangat, karena siswa yang pintar ataupun kurang pintar semua adalah anak bangsa. Guru sebagai psikolog harus tahu bahwa tidak ada manusia yang bodoh didunia ini, karena setiap manusia memiliki karakter berbeda dan kelebihan/kekurangannya berbeda. Perlu diperhatikan remedial harus dilakukan setelah berakhir pemberian tes, dan harus  ditangani oleh guru yang bersangkutan dan bukan dijadikan penghukuman, perlu diberikan terapi yang baik agar tujuan belajar tercapai dan siswa kembali termotivasi dalam belajar.

2. Penghargaan

Penghargaan dalam berbagai bentuknya, seperti pujian, pemberian hadiah, dan pemeringkatan (ranking), pada umumnya dapat membangkitkan dorongan belajar yang lebih tinggi. Namun, penghargaan hendaknya diberikan secara wajar dan tidak berlebihan. Sebagai contoh teknik, batasi pemberian ranking dari urutan 1 sampai 10 untuk mengurangi kesan superioritas.

3. Persaingan (yang Sehat dan Terkelola)

Dalam pendidikan modern, persaingan tidak lagi dianggap sebagai pilar utama motivasi siswa, melainkan lebih sebagai fenomena alami yang perlu dikelola dengan bijak. Tujuannya bukan untuk menciptakan "pemenang" dan "pecundang" secara terbuka yang dapat merusak harga diri siswa, melainkan untuk memanfaatkan energi kompetitif secara konstruktif.

Guru dapat membimbing siswa untuk bersaing dengan diri mereka sendiri (kompetisi intrapersonal), yaitu fokus pada peningkatan kinerja pribadi dari waktu ke waktu. Misalnya, siswa didorong untuk mengalahkan nilai ujian mereka sebelumnya, memperbaiki keterampilan yang sudah dimiliki, atau mencapai tujuan belajar yang mereka tetapkan sendiri. Ini menumbuhkan pola pikir bertumbuh (growth mindset), di mana usaha dan perbaikan dihargai lebih dari sekadar bakat bawaan.

Jika persaingan antar-siswa dilakukan, sebaiknya dalam bentuk yang berbasis tim (team-based competition) atau permainan edukatif (gamification). Ini mendorong kolaborasi dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, sambil tetap merasakan elemen kompetisi yang sehat tanpa menimbulkan tekanan individu yang berlebihan atau merusak hubungan sosial. Pengelolaan ini bertujuan untuk menjadikan persaingan sebagai bumbu motivasi yang positif, bukan sumber stres atau perasaan inferioritas.

4. Kerja Sama

Kerja sama adalah komponen motivasi yang sangat ditekankan dalam pendidikan modern, bahkan seringkali diprioritaskan di atas persaingan individual. Mendorong kerja sama (kolaborasi) dalam pembelajaran dapat membangkitkan motivasi siswa melalui berbagai aspek:

§  Rasa Kebersamaan dan Tanggung Jawab Kolektif: Ketika siswa bekerja sama dalam kelompok, mereka merasakan tanggung jawab bersama untuk keberhasilan tim. Ini memotivasi mereka untuk berkontribusi dan tidak ingin mengecewakan teman-teman.

§  Pembelajaran Sosial: Siswa belajar dari dan dengan teman sebaya. Mereka dapat saling menjelaskan konsep yang sulit, berbagi strategi pemecahan masalah, dan mendapatkan perspektif berbeda. Proses interaksi ini memperkaya pemahaman dan meningkatkan keterlibatan.

§  Pengembangan Keterampilan Sosial: Kerja sama melatih keterampilan penting seperti komunikasi efektif, mendengarkan aktif, negosiasi, dan resolusi konflik—keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia nyata.

§  Peningkatan Kepercayaan Diri: Siswa yang mungkin kurang percaya diri saat bekerja sendiri bisa merasa lebih aman dan termotivasi dalam lingkungan kelompok yang suportif. Kesuksesan kelompok menjadi kesuksesan pribadi.

§  Motivasi Intrinsik: Ketika siswa merasa menjadi bagian dari tim yang sukses dan dihargai kontribusinya, motivasi intrinsik mereka untuk belajar dan berkontribusi lebih lanjut akan meningkat.

Guru dapat menerapkan teknik kerja sama melalui proyek kelompok, diskusi terstruktur, kegiatan pemecahan masalah bersama, atau tutor sebaya (peer tutoring). Dengan demikian, kerja sama menjadi landasan yang kuat untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif, suportif, dan sangat memotivasi.

 

ASAS BEKERJA SENDIRI (OTO-AKTIVITET)

Pengajaran hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas berupa pekerjaan yang harus diselesaikan atau masalah-masalah yang harus dipecahkan atas dasar kemampuan anak sendiri. Prinsip di atas mempunyai dasar psikologis dan pedagogis. Agar anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas dan bekerja sendiri, maka kepada mereka hendaknya diberikan tugas individual di samping tugas kelompok. Tugas ini hendaknya setingkat atau sedikit di atas tingkat perkembangan jiwa anak. Tugas yang diberikan hendaknya sedikit menantang, sehingga memacu respons yang berkualitas tinggi.

Secara pedagogis, asas bekerja sendiri ditujukan untuk membimbing anak ke arah berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri, Ini berarti anak dibina untuk percaya kepada diri sendiri, mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan kemampuan sendiri, penuh inisiatif, dan berfikir kritis, serta bertanggung jawab.

Keaktifan dibagi atas keaktifan rohani dan keaktifan jasmani.

Keaktifan Rohani: Dalam hal ini anak-anak harus dibiasakan mencari, mencoba, dan mendapatkan sendiri. Guru menciptakan suatu kondisi agar Siswa selalu aktif. Pancaindera, ingatan, fantasi, kecerdasan, perasaan, dan  kemauan harus selalu dilatih.

Keaktifan jasmani: anak-anak harus mengukur sendiri, menggambar, memahat, memelihara sendiri, dan bergerak sesuai pendidikan jasmani.


Keuntungan asas bekerja sendiri:

1. Karena anak aktif sendiri maka perhatiannya akan penuh.

2. Anak-anak akan lebih tajam cara mencamkan atau penalarannya.

3. Pelajaran yang mungkin tidak jelas, karena percobaan sendiri akan menjadi terang.

4. Anak-anak Iebih puas : karena bukti-bukti, dalil, akan didapat sendiri (pendekatan induktif).

5. Anak-anak mendapat kepercayaan diri.

 

Beberapa cara dalam keaktifan rohani :      

1. Guru memberi pertanyaan-pertanyaan.

2. Mengisi atau melengkapi

3. Membuat soal, atau anak-anak diajak mengarang soal sendiri.

4. Persaingan yang sehat melalui lomba kecepatan menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan.

 

Beberapa cara dalam keaktifan jasmani :

1. Sedapat mungkin untuk tiap-tiap anak tersedia alat-alat perseorangan, yang cukup. Misalnya, mempunyai kartu huruf sendiri.

2. Membuat pekerjaan tangan

3. Membuat herbarium (koleksi spesimen tumbuhan atau jamur yang diawetkan dan disimpan untuk tujuan ilmiah)

4. Membuat kebun sekolah

5. Membuat kebun binatang sekolah sederhana (jika dimungkinkan).

6. Membuat museum kelas (Ilmu Bumi, Ilmu Hayat, Ilmu Alam, Sejarah).


ASAS KOOPERASI

Pengajaran harus memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang bersifat kooperatif. Asas kooperasi didasarkan kepada suatu pertimbangan, bahwa setiap individu adalah makhluk sosial. Asas kooperasi bertujuan untuk membina aspek sosial anak. Karena itu masalah pembentukan kelompok harus mendapat perhatian yang seksama.

Suatu hal yang perlu dibicarakan dalam hubungan dengan asas kooperasi, ialah masalah pembentukan kelompok. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa cara mengenai pembentukan kelompok.

1. Pengelompokan berdasarkan berbagai tingkat kemampuan anak.

Artinya, tiap-tiap kelompok terdiri dari campuran anak yang cerdas, cukup, sedang, dan kurang. Pengelompokan secara demikian dimaksudkan agar anak yang maju dapat mendorong dan membantu anak yang kurang maju.

2. Pengelompokan berdasarkan minat anak

Anak-anak yang mempunyai minat terhadap seni tari umpamanya, diberi tugas untuk membentuk suatu kelompok seni tari. Kelompok anak-anak yang menaruh minat terhadap pertanian untuk diberi tugas mengelola kebun sekolah.

3. Pengelompokan berdasarkan pembagian tugas menurut pokok bahasan.

Misalnya dalam Bidang Pengajaran IPS untuk pokok bahasan "Pemerintahan Desa", dengan mempergunakan metode tugas.

Kelompok A umpamanya diberi tugas untuk mendapatkan informasi  mengenai struktur organisasi Pemerintah Desa dan membuat organigramnya.

Kelompok B diberikan tugas untuk mendapatkan informasi mengenai ruang lingkup tugas pemerintah desa.

4. Pengelompokan atas dasar keakraban berteman.

Biasanya siswa akan aktif dan bersemangat jika berada pada teman yang dianggap dekat dan akrab, oleh karena itu cobalah sesekali waktu guru memberi kebebasan siswa membentuk kelompoknya sendiri.

Namun hal yang penting dari asas kooperasi ini, guru perlu memberikan pandangan dan penjelasan tentang pemahaman hidup berkelompok yang sehat dan membangun, jangan sampai tertanam hidup berkelompok secara absolut.

 

ASAS PENYESUAIAN KEPADA INDIVIDU ANAK

Asas penyesuaian kepada individu anak didasarkan kepada pandangan bahwa manusia secara individual berbeda satu sama lain. Pada prakteknya, sekolah dengan sistem pengajaran klasikal, agak kurang dalam pengembangan aspek perbedaan individu ini. Oleh sebab itu agar prinsip individualisasi dapat dilaksanakan diperlukan suatu sistem pengajaran klasikal yang lebih longgar. Artinya dalam batas-batas tertentu, prinsip individualisasi harus dapat dilaksanakan dalam sistem pengajaran klasikal. Guru harus memberi perhatian terhadap setiap individu, dengan memperhatikan perbedaan masing-masing.                    

Kesulitan yang paling terasa dihadapi Oleh guru dalam masalah individualisasi adalah sebagai berikut :

1. Guru menghadapi jumlah siswa yang terlalu besar.

2. Guru harus menyelesaikan bahan pengajaran sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan kurikulum.

Jadi guru dalam melaksanakan tugasnya lebih berorientasi pada penyajian materi daripada memberikan perhatian khusus kepada siswa. Untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek individu anak, maka dalam batas-batas tertentu individualisasi harus dapat dilaksanakan.

Individualisasi di sini maksudnya bahwa setiap anak memiliki gaya belajar, kecepatan, dan kebutuhan yang berbeda, yang penanganan secara individu juga berbeda.

Dari kesulitan yang dihadapi guru, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain :

1. Penyaluran bakat dan minat anak di bidang olah raga dan seni melalui kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, kegiatan dapat diorganisasi oleh siswa. Sekolah memfasilitasi, membimbingan dan mengawasi kegiatan.

2. Penyaluran bakat dan minat anak di bidang keterampilan. Siswa bebas memilih bidang keterampilan yang disenanginya (intrakurikuler), dibimbing oleh guru yang menguasai bidang keterampilan itu atau berkolaborasi dengan ahli dari luar.

3. Pengelompokan kelas menurut tingkat kemampuan siswa.

Pengelompokan ini dimaksudkan agar guru dapat memberikan bahan pengajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Dengan penangan cara ini, guru menyiapkan program pengayaan dan perbaikan.

4. Dalam pelaksanaannya : Guru memberikan pengayaan pada saat jam belajar sedang perbaikan dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran.

 

ASAS KORELASI

Asas korelasi mengemukakan pentingnya hubungan antara bidang pengajaran yang satu dengan bidang pengajaran yang lain. Asas ini tepat sekali digunakan dalam bentuk pengajaran proyek atau unit pada mata pelajaran IPA, di mana bidang pengajaran lainnya dikorelasikan atau diintegrasikan. Dalam pengajaran proyek, antara bidang-bidang pengajaran saling terkait dan berhubungan.

Contoh: Siswa-siswa dibawa ke alam bebas untuk mempelajari binatang atau tumbuh yang hidup di sawah, dan siswa diharapkan mengenal berbagai nama benda yang mungkin dijumpai dalam perjalanan. Seperti bukit, lembah, sungai, lumpur, pasir, batu, dan lain-lain.   Dalam kegiatan seperti itu, guru dapat menugaskan siswa untuk membuat karangan (Bahasa Indonesia), menghitung waktu jarak tempuh dari sekolah ke tempat tujuan (Berhitung, aspek sosial masyarakat dan geografi desa yang dikunjungi).

Contoh di atas adalah korelasi yang direncanakan. Ada pula korelasi yang insidental atau sewaktu-waktu bila diperlukan dengan menghubungkan antara materi satu pelajaran dengan materi pelajaran lainnya. Namun demikian jangan memaksakan konsep yang memang tidak memiliki korelasi yang erat.

 

ASAS ULANGAN YANG TERATUR

Asas ini mencakup dua pokok masalah, yaitu :

1. Ulangan sebagai usaha untuk memelihara kontinuitas antara bahan pengajaran yang telah diajarkan dengan bahan baru.

Prinsip ulangan ini berlandaskan prinsip apersepsi yang memperkuat penguasaan materi. Jadi sebelum siswa-siswa memulai dengan bahan pengajaran yang baru, guru hendaknya mengajukan beberapa pertanyaan lisan atau penjelasan singkat (± 5 menit) mengenai pokok - pokok penting dari bahan pengajaran yang telah diajarkan. Cara yang sama hendaknya juga dilakukan apabila bahan baru telah selesai dibicarakan. Sekedar untuk mengetahui seberapa jauh bahan yang baru  diajarkan itu telah dipahami oleh siswa.

2. Ulangan dalam arti penilaian atau evaluasi .

Bila suatu satuan bahan pengajaran telah selesai diajarkan, hendaknya diadakan ulangan untuk menilai hasil belajar siswa. Fungsinya adalah untuk memperbaiki proses belajar-mengajar. Jadi sebagai umpan balik  dari cara guru mengajar.

 Asas-asas didaktik di atas tidak berdiri dengan sendirinya untuk membuat seseorang mahir mengajar. Namun asas - asas itu akan membekali seseorang pengajar dengan suatu kerangka acuan dalam melakukan tindakan yang lebih efektif  pada kegiatan mengajar.

Dengan kerangka acuan itulah guru mengolah teknik dan seni mengajar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan karakteristik materi yang diajarkan serta sesuai dengan kemampuan siswa, dan hasil belajar yang diharapkan. Karena itü para guru harus menguasai bermacam-macam metode mengajar secara mendalam. Pengajar harus mendalami metode-metode mengajar seperti ceramah, tanya jawab, diskusİ, kerja kelompok, bermain peran, simulasi, demonstrasi, eksperimen, karyawisata, pemberian tugas, dan pemecahan masalah. Guru juga dituntut   untuk dapat mengembangkan alat, media, atau sumber belajar sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian dalam memberikan pelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai pengelola proses belajar mengajar. Dengan kata lain, guru juga harus menguasai metodik, yang akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

 

Daftar Pustaka :

Djamarah, Syaiful Bahri. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sardiman, A. M. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana, Nana. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Dewey, J. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. New York: The Macmillan Company.

Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Collier Books.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM MERDEKA

KURIKULUM KTSP

KURIKULUM 1975