DIDAKTIK
DIDAKTIK
Didaktik
berasal dari bahasa Yunani yaitu didaktikes yang berarti pandai
mengajar. Didaktik memberikan prinsip-prinsip atau asas-asas dan prosedur
mengajar sehingga bahan pelajaran dimengerti atau dikuasai oleh siswa.
Sebenarnya
asas-asas didaktik ini harus dikuasai guru sebelum mereka terjun menjadi
seorang guru, tetapi ternyata banyak guru yang perlu mengulangi lagi dan
memantapkan diri dalam penguasaan didaktik dan metodik.
Didaktik
dibagi atas dua, yakni :
Didaktik
Umum memberikan asas-asas didaktik.
2. Didaktik
khusus.
Didaktik Khusus atau disebut juga “Metodik”, yakni memberi cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan asas-asas didaktik.
ASAS – ASAS
DIDAKTIK
Asas-asas
didaktik adalah petunjuk umum yang menjadi pedoman pokok dalam mengajar. Ada
sembilan asas didaktik yang perlu diketahui guru sebagai pegangan dalam
melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas yaitu :
1. Asas Appersepsi.
2.
Asas Minat dan Perhatian.
3.
Asas Peragaan.
4.
Asas Motivasi.
5.
Asas Bekerja Sendiri.
6.
Asas Kooperasi.
7.
Asas Penyesuaian kepada Individu Anak.
8.
Asas Korelasi.
9. Asas Ulangan yang Teratur.
ASAS APERSEPSI
Apersepsi adalah
kegiatan mental dalam mengolah secara aktif tanggapan-tanggapan baru yang
dipengaruhi oleh tanggapan yang telah dimiliki siswa.
Agar
siswa-siswa mendapat persepsi (pengamatan) dan apersepsi (pemahaman awal) yang
terang, jelas dan benar, maka kepada mereka harus diberikan pengalaman langsung
(konkret) sebanyak mungkin dalam situasi belajar. Karena itu, asas apersepsi
perpegang pada suatu prinsip, bahwa setiap bahan pengajaran yang baru harus
berlandaskan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain,
tiap-tiap bahan pengajaran harus merupakan lanjutan dari pengetahuan yang telah
dimiliki siswa sebelumnya.
Dalam
hubungannya dengan apersepsi sekurang-kurangnya ada dua teknik yang dapat
digunakan oleh guru.
Pertama, sebelum
mengajarkan materi baru, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait
dengan bahan pelajaran yang telah diberikan sebelumnya atau yang berhubungan
dengan keadaan atau peristiwa sehari-hari. Misalnya akan mengajarkan gaya, maka
harus ditanyakan terlebih dahulu konsep gerak benda dan massa benda, dan guru
harus dapat menyimpulkan pengetahuan awal anak itu, bila siswa dianggap belum
banyak yang menguasai, maka guru harus memberikan latar terlebih dahulu.
Kedua, setelah
guru melakukan komunikasi awal, ia melakukan suatu review (peninjauan kembali)
terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan sebelumnya. Hal ini dilakukan
dengan memberikan penjelasan atau ulasan singkat mengenai inti dari pelajaran
yang telah disajikan
untuk dikaitkan dengan bahan
pelajaran yang akan disajikannya.
ASAS MINAT
DAN PERHATIAN
Antara
minat dan perhatian terdapat perbedaan mendasar, namun saling melengkapi. Minat
itu lebih bersifat tetap, sedangkan perhatian bersifat temporer (sementara).
Antara minat dan perhatian terdapat hubungan
yang bersifat pengaruh-mempengaruhi secara timbal balik. Artinya
perhatian yang diperkuat secara terus menerus dapat menjadi minat. Hal yang diminati anak pasti menarik
perhatiannya. Oleh sebab itu guru harus berusaha agar pelajaran menarik
perhatian anak. Hal ini agar kehadiran siswa dalam proses belajar mengajar
bersifat utuh dalam arti siswa tidak hanya hadir secara fisik, tetapi jiwa
mereka juga hadir sepenuhnya di dalam proses itu. Kehadiran siswa seutuhnya
dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) menjadi salah satu prakondisi bagi
terjadinya komunikasi edukatif yang
efektif antara guru dan siswa-siswanya.
Beberapa
faktor yang berpengaruh terhadap minat dan perhatian anak, antara Iain :
1.
Pemilihan bahan pengajaran
Bahan pengajaran
yang dipilih hendaknya sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Misalnya anak yang
berumur antara 6 - 7 tahun, beşar sekali perhatiannya terhadap keadaan di
sekelilingnya dan akunya. Oleh karena
itü bahan pengajaran harus sesuai dengan dunia disekeliling anak dan
kepentingan anak. dengan kata lain, bahwa bahan pengajaran harus setaraf dengan
tingkat perkembangan jiwa anak. Di kelas anak harus banyak bermain sambil belajar atau belajar
sambil bermain.
2. Minat
dan Perhatian guru
Agar minat
dan perhatian siswa timbul dan terarah secara intensif terhadap bahan
pengajaran yang disajikan oleh guru, maka guru itü sendiri harus menunjukkan
minat dan perhatian yang beşar terhadap
bahan pelajaran tersebut. Guru harus mampu memperlihatkan kegairahan dan
kesungguhannya dalam mengajar, serta harus mampu menunjukkan atau menekankan
bahwa apa yang tengah disajikannya kepada para
siswa itü bermakna atau penting sekali bagi mereka. Di samping itü
guru juga harus memberikan perhatian
yang memadai kepada para siswanya baik secara verbal maupun non-verbal,
termasuk dengan menggunakan pandangan mata atau perhatian distributif kepada
mereka.
Sementara
itü perhatian yang diberikan guru kepada para siswa seyogyanya disesuaikan
dengan perbedaan individual antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.
3. Cara
guru mengajar
Untuk ini diperlukan penguasaan bahasa yang baik, penguasaan bahan yang mantap, pemilihan dan penggunaan metode mengajar yang tepat, contoh-contoh yang sesuai dengan dunia anak dan variasi-variasi mengajar yang hidup tapi wajar. şuara guru harus jelas dan bervariasi, şuara guru yang kurang jelas dan monoton dapat memperlemah perhatian siswa. Bahkan şuara guru semacam itü dapat membuat siswa-siswa mengantuk atau mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal di luar konteks belajar mengajar.
4. Kepribadian
Guru
Faktor kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap minat dan perhatian anak dalam belajar. Penampilan sifat keramah-tamahan, kegembiraan, keterbukaannya, bahkan kepercayaan dan rasa kasih sayangnya harus tercermin dalam sikap dan tindakannya. Kewibawaan guru dan hubungan baik antara guru dengan Siswa juga dipengaruhi Oleh faktor kepribadian guru. Guru tidak boleh berkepribadian labil dan otoriter. Guru harus mempunyai rasa kasih sayang dan adil terhadap para siswanya sehingga dalam diri Siswa timbul kepercayaan dan kasih sayang terhadapnya, yang pada akhimya mereka mau dan berusaha memperhatikan apa yang disajikan guru kepada mereka.
ASAS
PERAGAAN
Asas
peragaan ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Pengajaran akan lebih menarik (dapat
membangkitkan minat dan perhatian anak) apabila disertai dengan contoh-contoh
yang dapat diperagakan.
2.
Membantu memperjelas pengertian tentang sesuatu,
lebih-lebih untuk anak-anak yang taraf berfikir mereka masih berada pada
tingkat konkret. Karena sesuatu yang diamati, diraba, dicium, dilihat,
didengar, dan dikecap, akan lebih jelas serta berkesan daripada hanya
diceritakan saja. Mereka belum dapat menyerap yang abstrak.
3.
Mencegah verbalisme (Anak-anak hafal tentang kata-kata, tetapi ia
tidak memahami dari kata-kata tersebut).
Dari
ketiga pertimbangan di atas, pertimbangan yang kedua perlu mendapat perhatian
yang khusus,sebab pertimbangan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari
tujuan peragaan itu sendiri. Peragaan hendaknya diberikan secara wajar.
Artinya, tidak berlebih-lebihan. Kita harus mengetahui apakah sesuatu itu perlu
diragakan atau tidak. Alat peraga harus dilihat juga dari faktor ekonomis.
Artinya alat peraga dapat digunakan untuk beberapa pokok bahasan atau dapat
juga digunakan untuk mata pelajaran Iain. Peragaan itu dapat dibagi dalam dua
macam, yaitu :
§
Peragaan langsung
Pada
peragaan ini, anak dihadapkan kepada benda atau situasi yang sesungguhnya untuk
diamati atau dialami.
Contoh : Mengamati
rangka manusia (baik rangka asli, replika, atau model 3D).
§
Peragaan tak langsung
Pada
peragaan ini, anak dihadapkan kepada tiruan, model, maupun gambar dari suatu
benda atau situasi.
Contoh : Video atau Film Dokumenter, Gambar atau Foto, Animasi atau Simulasi Komputer, Grafik dan Diagram, Rekaman Audio.
ASAS
MOTIVASI
Motivasi adalah
usaha guru untuk membangkitkan atau mendorong kemauan anak untuk belajar. Dalam
rangka bagaimana menanamkan motivasi tersebut di sekolah, maka guru seyogyanya
dapat menjadi motivator yang menerapkan teknik memotivasi yang dilandasi aspek
psikologis dan pedagogis. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh teknik
memotivasi siswa di sekolah.
1. Memberi
angka
Pembinaan
prestasi belajar siswa merupakan salah satu tugas utama seorang guru. Tingkat prestasi
siswa dapat dilihat dari nilai atau angka yang diperoleh siswa pada setiap mata
pelajaran. Prestasi belajar siswa pada setiap mata pelajaran ada yang sama dan
ada pula yang berbeda.
Mengetahui
angka atau nilai prestasi pada tiap-tiap mata pelajaran pada umumnya merupakan
salah satu kesenangan tersendiri bagi siswa, merupakan sebuah kebanggan dan
penghargaan. Oleh sebab iłu pemberian nilai
atau angka dapat memotivasi siswa untuk belajar.
Tapi perlu
diperhatikan bagi anak yang mendapat angka rendah perlu dibantu dan diberi
dorongan serta harapan. Misalnya, jika angka siswa terlalu rendah jangan
tuliskan nilai itu, tetapi anak didorong terlebih dahulu untuk memperbaikinya
(Remedial). Tindakan ini sangat perlu mendapat perhatian di kelas rendah. Nilai
yang dicantumkan jangan sampai memberi kesan
kepada siswa bahwa dia tidak dapat mengerjakannya, atau menyebabkannya
sebagai siswa yang bodoh. Guru adalah motivator, siswa adalah generasi muda yang
perlu dirangkul dan diber semangat, karena siswa yang pintar ataupun kurang pintar
semua adalah anak bangsa. Guru sebagai psikolog harus tahu bahwa tidak ada
manusia yang bodoh didunia ini, karena setiap manusia memiliki karakter berbeda
dan kelebihan/kekurangannya berbeda. Perlu diperhatikan remedial harus dilakukan
setelah berakhir pemberian tes, dan harus ditangani oleh guru yang bersangkutan dan
bukan dijadikan penghukuman, perlu diberikan terapi yang baik agar tujuan
belajar tercapai dan siswa kembali termotivasi dalam belajar.
2. Penghargaan
Penghargaan
dalam berbagai bentuknya, seperti pujian, pemberian hadiah, dan pemeringkatan
(ranking), pada umumnya dapat membangkitkan dorongan belajar yang lebih tinggi.
Namun, penghargaan hendaknya diberikan secara wajar dan tidak berlebihan.
Sebagai contoh teknik, batasi pemberian ranking dari urutan 1 sampai 10 untuk
mengurangi kesan superioritas.
3.
Persaingan (yang Sehat dan Terkelola)
Dalam
pendidikan modern, persaingan tidak lagi dianggap sebagai pilar utama motivasi
siswa, melainkan lebih sebagai fenomena alami yang perlu dikelola dengan bijak.
Tujuannya bukan untuk menciptakan "pemenang" dan
"pecundang" secara terbuka yang dapat merusak harga diri siswa,
melainkan untuk memanfaatkan energi kompetitif secara konstruktif.
Guru dapat
membimbing siswa untuk bersaing dengan diri mereka sendiri (kompetisi
intrapersonal), yaitu fokus pada peningkatan kinerja pribadi dari waktu ke
waktu. Misalnya, siswa didorong untuk mengalahkan nilai ujian mereka
sebelumnya, memperbaiki keterampilan yang sudah dimiliki, atau mencapai tujuan
belajar yang mereka tetapkan sendiri. Ini menumbuhkan pola pikir bertumbuh (growth
mindset), di mana usaha dan perbaikan dihargai lebih dari sekadar bakat
bawaan.
Jika
persaingan antar-siswa dilakukan, sebaiknya dalam bentuk yang berbasis tim (team-based
competition) atau permainan edukatif (gamification). Ini mendorong
kolaborasi dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, sambil tetap merasakan
elemen kompetisi yang sehat tanpa menimbulkan tekanan individu yang berlebihan
atau merusak hubungan sosial. Pengelolaan ini bertujuan untuk menjadikan persaingan
sebagai bumbu motivasi yang positif, bukan sumber stres atau perasaan
inferioritas.
4. Kerja
Sama
Kerja sama
adalah komponen motivasi yang sangat ditekankan dalam pendidikan modern, bahkan
seringkali diprioritaskan di atas persaingan individual. Mendorong kerja sama
(kolaborasi) dalam pembelajaran dapat membangkitkan motivasi siswa melalui
berbagai aspek:
§
Rasa Kebersamaan dan Tanggung Jawab Kolektif: Ketika
siswa bekerja sama dalam kelompok, mereka merasakan tanggung jawab bersama
untuk keberhasilan tim. Ini memotivasi mereka untuk berkontribusi dan tidak
ingin mengecewakan teman-teman.
§
Pembelajaran Sosial: Siswa
belajar dari dan dengan teman sebaya. Mereka dapat saling menjelaskan konsep
yang sulit, berbagi strategi pemecahan masalah, dan mendapatkan perspektif
berbeda. Proses interaksi ini memperkaya pemahaman dan meningkatkan
keterlibatan.
§
Pengembangan Keterampilan Sosial: Kerja
sama melatih keterampilan penting seperti komunikasi efektif, mendengarkan
aktif, negosiasi, dan resolusi konflik—keterampilan yang sangat dibutuhkan di
dunia nyata.
§
Peningkatan Kepercayaan Diri: Siswa
yang mungkin kurang percaya diri saat bekerja sendiri bisa merasa lebih aman
dan termotivasi dalam lingkungan kelompok yang suportif. Kesuksesan kelompok
menjadi kesuksesan pribadi.
§
Motivasi Intrinsik: Ketika
siswa merasa menjadi bagian dari tim yang sukses dan dihargai kontribusinya,
motivasi intrinsik mereka untuk belajar dan berkontribusi lebih lanjut akan
meningkat.
Guru dapat
menerapkan teknik kerja sama melalui proyek kelompok, diskusi terstruktur,
kegiatan pemecahan masalah bersama, atau tutor sebaya (peer tutoring).
Dengan demikian, kerja sama menjadi landasan yang kuat untuk membangun
lingkungan belajar yang inklusif, suportif, dan sangat memotivasi.
ASAS BEKERJA
SENDIRI (OTO-AKTIVITET)
Pengajaran
hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas berupa
pekerjaan yang harus diselesaikan atau masalah-masalah yang harus dipecahkan
atas dasar kemampuan anak sendiri. Prinsip di atas mempunyai dasar psikologis
dan pedagogis. Agar anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas dan bekerja
sendiri, maka kepada mereka hendaknya diberikan tugas individual di samping
tugas kelompok. Tugas ini hendaknya setingkat atau sedikit di atas tingkat
perkembangan jiwa anak. Tugas yang diberikan hendaknya sedikit menantang,
sehingga memacu respons yang berkualitas tinggi.
Secara
pedagogis, asas bekerja sendiri ditujukan untuk membimbing anak ke arah berdiri
sendiri atas tanggung jawab sendiri, Ini berarti anak dibina untuk percaya
kepada diri sendiri, mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan kemampuan
sendiri, penuh inisiatif, dan berfikir kritis, serta bertanggung jawab.
Keaktifan
dibagi atas keaktifan rohani dan keaktifan jasmani.
Keaktifan
Rohani: Dalam hal ini anak-anak harus dibiasakan mencari, mencoba, dan
mendapatkan sendiri. Guru menciptakan suatu kondisi agar Siswa selalu aktif.
Pancaindera, ingatan, fantasi, kecerdasan, perasaan, dan kemauan harus selalu dilatih.
Keaktifan jasmani: anak-anak harus mengukur sendiri, menggambar, memahat, memelihara sendiri, dan bergerak sesuai pendidikan jasmani.
Keuntungan
asas bekerja sendiri:
1. Karena
anak aktif sendiri maka perhatiannya akan penuh.
2. Anak-anak
akan lebih tajam cara mencamkan atau penalarannya.
3. Pelajaran
yang mungkin tidak jelas, karena percobaan sendiri akan menjadi terang.
4. Anak-anak
Iebih puas : karena bukti-bukti, dalil, akan didapat sendiri (pendekatan induktif).
5. Anak-anak
mendapat kepercayaan diri.
Beberapa cara
dalam keaktifan rohani :
1. Guru
memberi pertanyaan-pertanyaan.
2. Mengisi
atau melengkapi
3. Membuat
soal, atau anak-anak diajak mengarang soal sendiri.
4. Persaingan
yang sehat melalui lomba kecepatan menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan.
Beberapa cara
dalam keaktifan jasmani :
1. Sedapat
mungkin untuk tiap-tiap anak tersedia alat-alat perseorangan, yang cukup.
Misalnya, mempunyai kartu huruf sendiri.
2. Membuat
pekerjaan tangan
3. Membuat
herbarium (koleksi spesimen tumbuhan atau jamur yang diawetkan dan disimpan
untuk tujuan ilmiah)
4. Membuat
kebun sekolah
5. Membuat
kebun binatang sekolah sederhana (jika dimungkinkan).
6. Membuat museum kelas (Ilmu Bumi, Ilmu Hayat, Ilmu Alam, Sejarah).
ASAS
KOOPERASI
Pengajaran
harus memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang bersifat
kooperatif. Asas kooperasi didasarkan kepada suatu pertimbangan, bahwa setiap
individu adalah makhluk sosial. Asas kooperasi bertujuan untuk membina aspek
sosial anak. Karena itu masalah pembentukan kelompok harus mendapat perhatian
yang seksama.
Suatu hal
yang perlu dibicarakan dalam hubungan dengan asas kooperasi, ialah masalah
pembentukan kelompok. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa cara mengenai
pembentukan kelompok.
1. Pengelompokan
berdasarkan berbagai tingkat kemampuan anak.
Artinya, tiap-tiap kelompok terdiri dari campuran anak yang cerdas, cukup, sedang, dan kurang. Pengelompokan secara demikian dimaksudkan agar anak yang maju dapat mendorong dan membantu anak yang kurang maju.
2. Pengelompokan
berdasarkan minat anak
Anak-anak yang mempunyai minat terhadap seni tari umpamanya, diberi tugas untuk membentuk suatu kelompok seni tari. Kelompok anak-anak yang menaruh minat terhadap pertanian untuk diberi tugas mengelola kebun sekolah.
3. Pengelompokan
berdasarkan pembagian tugas menurut pokok bahasan.
Misalnya
dalam Bidang Pengajaran IPS untuk pokok bahasan "Pemerintahan Desa",
dengan mempergunakan metode tugas.
Kelompok A umpamanya
diberi tugas untuk mendapatkan informasi
mengenai struktur organisasi Pemerintah Desa dan membuat organigramnya.
Kelompok B diberikan tugas untuk mendapatkan informasi mengenai ruang lingkup tugas pemerintah desa.
4. Pengelompokan
atas dasar keakraban berteman.
Biasanya
siswa akan aktif dan bersemangat jika berada pada teman yang dianggap dekat dan
akrab, oleh karena itu cobalah sesekali waktu guru memberi kebebasan siswa
membentuk kelompoknya sendiri.
Namun hal
yang penting dari asas kooperasi ini, guru perlu memberikan pandangan dan
penjelasan tentang pemahaman hidup berkelompok yang sehat dan membangun, jangan
sampai tertanam hidup berkelompok secara absolut.
ASAS
PENYESUAIAN KEPADA INDIVIDU ANAK
Asas
penyesuaian kepada individu anak didasarkan kepada pandangan bahwa manusia
secara individual berbeda satu sama lain. Pada prakteknya, sekolah dengan
sistem pengajaran klasikal, agak kurang dalam pengembangan aspek perbedaan
individu ini. Oleh sebab itu agar prinsip individualisasi dapat dilaksanakan
diperlukan suatu sistem pengajaran klasikal yang lebih longgar. Artinya dalam
batas-batas tertentu, prinsip individualisasi harus dapat dilaksanakan dalam
sistem pengajaran klasikal. Guru harus memberi perhatian terhadap setiap
individu, dengan memperhatikan perbedaan masing-masing.
Kesulitan
yang paling terasa dihadapi Oleh guru dalam masalah individualisasi adalah
sebagai berikut :
1. Guru
menghadapi jumlah siswa yang terlalu besar.
2. Guru
harus menyelesaikan bahan pengajaran sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
kurikulum.
Jadi guru
dalam melaksanakan tugasnya lebih berorientasi pada penyajian materi daripada
memberikan perhatian khusus kepada siswa. Untuk memberikan perhatian yang lebih
besar pada aspek individu anak, maka dalam batas-batas tertentu individualisasi harus dapat dilaksanakan.
Individualisasi
di sini maksudnya bahwa setiap anak memiliki gaya belajar, kecepatan, dan
kebutuhan yang berbeda, yang penanganan secara individu juga berbeda.
Dari kesulitan
yang dihadapi guru, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain :
1. Penyaluran
bakat dan minat anak di bidang olah raga dan seni melalui kegiatan ekstra
kurikuler. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, kegiatan dapat
diorganisasi oleh siswa. Sekolah memfasilitasi, membimbingan dan mengawasi kegiatan.
2. Penyaluran
bakat dan minat anak di bidang keterampilan. Siswa bebas memilih bidang
keterampilan yang disenanginya (intrakurikuler), dibimbing oleh guru yang
menguasai bidang keterampilan itu atau berkolaborasi dengan ahli dari luar.
3. Pengelompokan
kelas menurut tingkat kemampuan siswa.
Pengelompokan
ini dimaksudkan agar guru dapat memberikan bahan pengajaran yang sesuai dengan
tingkat kemampuan siswa. Dengan penangan cara ini, guru menyiapkan program
pengayaan dan perbaikan.
4. Dalam
pelaksanaannya : Guru memberikan pengayaan pada saat jam belajar sedang
perbaikan dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran.
ASAS
KORELASI
Asas
korelasi mengemukakan pentingnya hubungan antara bidang pengajaran yang satu
dengan bidang pengajaran yang lain. Asas ini tepat sekali digunakan dalam
bentuk pengajaran proyek atau unit pada mata pelajaran IPA, di mana bidang
pengajaran lainnya dikorelasikan atau diintegrasikan. Dalam pengajaran proyek,
antara bidang-bidang pengajaran saling terkait dan berhubungan.
Contoh:
Siswa-siswa dibawa ke alam bebas untuk mempelajari binatang atau tumbuh yang
hidup di sawah, dan siswa diharapkan mengenal berbagai nama benda yang mungkin
dijumpai dalam perjalanan. Seperti bukit, lembah, sungai, lumpur, pasir, batu,
dan lain-lain. Dalam kegiatan seperti
itu, guru dapat menugaskan siswa untuk membuat karangan (Bahasa Indonesia),
menghitung waktu jarak tempuh dari sekolah ke tempat tujuan (Berhitung, aspek
sosial masyarakat dan geografi desa yang dikunjungi).
Contoh di
atas adalah korelasi yang direncanakan. Ada pula korelasi yang insidental atau
sewaktu-waktu bila diperlukan dengan menghubungkan antara materi satu pelajaran
dengan materi pelajaran lainnya. Namun demikian jangan memaksakan konsep yang
memang tidak memiliki korelasi yang erat.
ASAS
ULANGAN YANG TERATUR
Asas ini
mencakup dua pokok masalah, yaitu :
1. Ulangan
sebagai usaha untuk memelihara kontinuitas antara bahan pengajaran yang telah
diajarkan dengan bahan baru.
Prinsip ulangan ini berlandaskan prinsip apersepsi yang memperkuat penguasaan materi. Jadi sebelum siswa-siswa memulai dengan bahan pengajaran yang baru, guru hendaknya mengajukan beberapa pertanyaan lisan atau penjelasan singkat (± 5 menit) mengenai pokok - pokok penting dari bahan pengajaran yang telah diajarkan. Cara yang sama hendaknya juga dilakukan apabila bahan baru telah selesai dibicarakan. Sekedar untuk mengetahui seberapa jauh bahan yang baru diajarkan itu telah dipahami oleh siswa.
2. Ulangan
dalam arti penilaian atau evaluasi .
Bila suatu
satuan bahan pengajaran telah selesai diajarkan, hendaknya diadakan ulangan
untuk menilai hasil belajar siswa. Fungsinya adalah untuk memperbaiki proses
belajar-mengajar. Jadi sebagai umpan balik
dari cara guru mengajar.
Asas-asas didaktik di atas tidak berdiri dengan
sendirinya untuk membuat seseorang mahir mengajar. Namun asas - asas itu akan
membekali seseorang pengajar dengan suatu kerangka acuan dalam melakukan
tindakan yang lebih efektif pada
kegiatan mengajar.
Dengan
kerangka acuan itulah guru mengolah teknik dan seni mengajar sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya dan karakteristik materi yang diajarkan serta sesuai
dengan kemampuan siswa, dan hasil belajar yang diharapkan. Karena itü para guru
harus menguasai bermacam-macam metode mengajar secara mendalam. Pengajar harus
mendalami metode-metode mengajar seperti ceramah, tanya jawab, diskusİ, kerja
kelompok, bermain peran, simulasi, demonstrasi, eksperimen, karyawisata,
pemberian tugas, dan pemecahan masalah. Guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan alat, media, atau
sumber belajar sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian dalam memberikan
pelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai pengelola proses belajar
mengajar. Dengan kata lain, guru juga harus menguasai metodik, yang akan
dibahas pada kesempatan berikutnya.
Daftar
Pustaka :
Djamarah,
Syaiful Bahri. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sardiman,
A. M. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Sudjana,
Nana. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Dewey, J. (1916). Democracy and Education: An Introduction to
the Philosophy of Education. New York: The Macmillan Company.
Dewey, J.
(1938). Experience and Education. New York: Collier Books.

Komentar
Posting Komentar