KURIKULUM 1984



Penulis :
Lukman Hidayatullah, S.T., M.Pd.
Guru SMKN 2 Kota Serang.

KURIKULUM 1984

Kurikulum 1984 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975, yang lebih dikenal dengan sebutan Kurikulum 1975 yang Disempurnakan. Meskipun tetap berorientasi pada tujuan instruksional, kurikulum ini membawa inovasi signifikan dengan memperkenalkan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).

 

LATAR BELAKANG

Kurikulum 1984 lahir dari kebutuhan untuk menyempurnakan Kurikulum 1975 yang dinilai memiliki beberapa kelemahan dan menghadapi tantangan baru, antara lain:

1. Kritik terhadap Kurikulum 1975: Meskipun berorientasi pada tujuan, Kurikulum 1975 dianggap terlalu kaku dan membebani guru dengan perumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang sangat rinci, sehingga kurang memberikan ruang bagi kreativitas guru dan aktivitas siswa. Guru menjadi "sibuk" menuliskan rincian yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

2. Ketidakserasian Materi dengan Kemampuan Anak Didik: Terdapat pandangan bahwa materi kurikulum pada beberapa bidang studi tidak sepenuhnya serasi dengan tingkat kemampuan dan perkembangan anak didik.

3. Kesenjangan antara Program dan Pelaksanaan: Adanya kesenjangan antara program kurikulum yang dirancang dengan implementasinya di sekolah.

4. Isi Kurikulum yang Terlalu Padat: Isi kurikulum yang harus diajarkan di hampir setiap jenjang dinilai terlalu padat.

5. Tuntutan GBHN 1983: Terdapat beberapa unsur dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1983 yang belum tertampung dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

6. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK): Perkembangan IPTEK yang semakin pesat menuntut adanya penyesuaian dalam kurikulum agar lulusan siap menghadapi tantangan masa depan.

7. Pengadaan Program Studi Baru: Kebutuhan akan program studi baru untuk memenuhi kebutuhan perkembangan di lapangan kerja.

8. Penekanan pada Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB): PSPB menjadi mata pelajaran wajib yang berdiri sendiri dari tingkat TK hingga SMA/sederajat, sebagai upaya menanamkan nilai-nilai 1945.


TUJUAN

Tujuan utama Kurikulum 1984 adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran dengan menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang aktif. Tujuan ini sejalan dengan pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu yang terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.

Secara spesifik, tujuan Kurikulum 1984 adalah:

1. Menciptakan Sumber Daya Manusia yang Siap Membangun: Menyiapkan tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan nasional.

2. Mencapai Keseimbangan Kognitif, Keterampilan, dan Sikap: Mengarahkan pelajaran pada keseimbangan antara aspek kognitif (pengetahuan), keterampilan, dan sikap, serta antara teori dan praktik.

3. Mendorong Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA): Mengubah paradigma pembelajaran dari teacher-centered menjadi student-centered melalui CBSA, dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

4. Menanamkan Pengertian Sebelum Latihan: Memastikan siswa memahami konsep terlebih dahulu sebelum diberikan latihan, dengan bantuan alat peraga.


DASAR HUKUM

Dasar hukum yang melandasi pemberlakuan Kurikulum 1984 antara lain:

1. Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1983: Mengandung arah kebijakan pembangunan nasional, termasuk di bidang pendidikan, yang mendorong penyempurnaan kurikulum.

2. TAP MPR Nomor IV/MPR/1978: Menetapkan Pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib.

3. TAP MPR Nomor II/MPR/1983: Menetapkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) sebagai bagian dari Pendidikan Pancasila. Juga memperkuat kedudukan PSPB sebagai mata pelajaran wajib.

4. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/U/1983: Menetapkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai mata pelajaran wajib.

5. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS): Meskipun diberlakukan setelah Kurikulum 1984, UU ini merupakan landasan sistem pendidikan nasional pada era tersebut dan seringkali menjadi rujukan kebijakan kurikulum. UU ini juga menetapkan wajib belajar 9 tahun.


CIRI-CIRI UTAMA

Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri menonjol sebagai berikut:

1. Berorientasi pada Tujuan Instruksional: Tetap mempertahankan fokus pada pencapaian tujuan instruksional yang jelas, meskipun perumusan TIK tidak sekaku Kurikulum 1975.

2. Mengusung Pendekatan Keterampilan Proses (Process Skill Approach): Meskipun tujuan tetap penting, kurikulum ini menekankan pada proses pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.

3. Penerapan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA): Ini adalah ciri paling menonjol. Siswa ditempatkan sebagai subjek belajar yang aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional. CBSA mendorong siswa untuk mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan hasil belajarnya.

4. Materi Dikemas dengan Pendekatan Spiral: Pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi. Semakin tinggi kelas dan jenjang, semakin dalam dan luas materi yang diberikan.

5. Menanamkan Pengertian Sebelum Latihan: Konsep-konsep dipelajari berdasarkan pengertian, baru kemudian diberikan latihan. Penggunaan alat peraga sebagai media sangat ditekankan untuk membantu pemahaman konsep.

6. Materi Disajikan Berdasarkan Tingkat Kesiapan Siswa: Materi disajikan berdasarkan kematangan mental siswa, dengan pendekatan konkret, semi konkret, semi abstrak, dan abstrak, serta menggunakan pendekatan induktif (dari contoh ke kesimpulan, dari mudah ke sukar, dari sederhana ke kompleks).

7. Integrasi PSPB: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) diintegrasikan sebagai mata pelajaran wajib.

8. Perubahan Mata Pelajaran Inti: Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti, misalnya IPA di SMP dibagi menjadi Biologi dan Fisika.


PERANGKAT PEDOMAN PELAKSANAAN

Perangkat pedoman pelaksanaan Kurikulum 1984 sangat erat kaitannya dengan implementasi CBSA. Guru tidak lagi hanya menuliskan rinci TIK seperti pada Kurikulum 1975, melainkan lebih fokus pada bagaimana siswa bisa aktif dalam proses pembelajaran. Pedoman ini meliputi:

1. Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum: Dokumen resmi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang memberikan panduan umum dan spesifik tentang implementasi kurikulum untuk setiap jenjang dan mata pelajaran.

2. Buku Panduan Guru (Buku Pedoman Guru): Berisi panduan bagi guru untuk mengimplementasikan CBSA, termasuk contoh-contoh kegiatan pembelajaran yang mendorong keaktifan siswa.

3. Materi dan Alat Peraga: Penekanan pada penggunaan alat peraga sebagai media untuk membantu pemahaman konsep, yang selaras dengan prinsip menanamkan pengertian sebelum latihan.

4. Sistem Evaluasi: Meskipun tetap berbasis tujuan, evaluasi diharapkan lebih holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta disesuaikan dengan pendekatan keterampilan proses.

5. Pelatihan Guru: Adanya program pelatihan bagi guru untuk memahami dan menerapkan konsep CBSA dalam praktik pembelajaran.


KESIMPULAN

Kurikulum 1984 merupakan langkah maju dalam sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia. Ia adalah "Kurikulum 1975 yang Disempurnakan" dengan penekanan pada Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Pendekatan Keterampilan Proses. Kurikulum ini berupaya mengatasi kelemahan Kurikulum 1975 yang terlalu mekanistik dan mendorong siswa menjadi subjek aktif dalam pembelajaran.

Meskipun CBSA memiliki tujuan yang mulia untuk meningkatkan keterlibatan siswa, implementasinya di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Banyak guru yang belum siap dengan perubahan paradigma ini, fasilitas yang belum memadai, serta pemahaman yang keliru tentang CBSA itu sendiri. Terkadang CBSA diartikan hanya sebagai "siswa sibuk" tanpa makna pembelajaran yang mendalam. Namun, Kurikulum 1984 telah meletakkan dasar bagi pengembangan kurikulum yang lebih berpusat pada siswa di masa depan, dan konsep CBSA tetap menjadi fondasi penting dalam teori pembelajaran hingga kini.

 

PERBEDAAN RPP KURIKULUM 1975 DENGAN KURIKULUM 1984

Perbedaan signifikan muncul pada penekanan dan implementasi komponen-komponen RPP, khususnya dalam bagian KBM:

1. Penekanan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar):

v  Kurikulum 1975 (PPSI): KBM lebih bersifat teacher-centered (berpusat pada guru). Guru adalah pihak yang aktif menjelaskan dan menyampaikan materi. TIK dirumuskan sangat rinci dan menjadi pedoman utama guru dalam menyampaikan materi. Guru cenderung "mendiktekan" pengetahuan kepada siswa.

v  Kurikulum 1984 (CBSA): KBM sangat menekankan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning. Guru berperan sebagai fasilitator yang merancang kegiatan agar siswa aktif mengamati, bertanya, mencoba, berdiskusi, hingga melaporkan. Meskipun tujuan tetap penting, fokusnya bergeser pada proses siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan, bukan hanya hasil akhir. 

2. Perumusan TIK:

v  Kurikulum 1975: TIK dirumuskan dengan sangat detail dan eksplisit untuk setiap langkah pembelajaran, terkadang terasa kaku dan membebani guru karena harus merinci semua perilaku yang diharapkan.

v  Kurikulum 1984: TIK tetap ada, tetapi perumusannya mungkin tidak sekaku dan sedetail Kurikulum 1975. Penekanan lebih pada proses pencapaian TIK melalui aktivitas siswa.

3. Pendekatan Pembelajaran:

v  Kurikulum 1975: Menggunakan pendekatan behavioristik yang kuat, dengan fokus pada stimulus-respon dan drill (latihan) untuk mencapai perubahan tingkah laku yang terukur.

v  Kurikulum 1984: Mengusung pendekatan keterampilan proses, di mana siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan seperti mengamati, mengklasifikasi, menganalisis, mengkomunikasikan, dan memecahkan masalah.

4. Fleksibilitas Guru:

v  Kurikulum 1975: Guru memiliki sedikit fleksibilitas karena harus mengikuti PPSI yang sangat terperinci.

v  Kurikulum 1984: Meskipun tetap terstruktur, Kurikulum 1984 memberikan sedikit lebih banyak ruang bagi guru untuk berkreasi dalam merancang aktivitas siswa guna mencapai tujuan pembelajaran.

Singkatnya, jika RPP Kurikulum 1975 dikenal dengan "PPSI yang sangat rinci dan berpusat pada guru," maka RPP Kurikulum 1984 adalah "PPSI yang disempurnakan dengan penekanan pada Cara Belajar Siswa Aktif." Kedua kurikulum ini menunjukkan evolusi dalam desain pembelajaran di Indonesia.

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KURIKULUM 1984

Mata Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) / Fisika

Kelas/Semester: VIII / 2

Pokok Bahasan: Gaya dan Usaha

Alokasi Waktu: 2 x 45 menit (1 Pertemuan)

 

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat memahami konsep dasar gaya dan usaha melalui pengalaman langsung serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan CBSA, siswa diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pengertian gaya dengan bahasanya sendiri setelah melakukan percobaan sederhana.
  2. Mengidentifikasi minimal 3 pengaruh gaya terhadap suatu benda berdasarkan pengamatan.
  3. Menjelaskan pengertian usaha dalam fisika setelah menganalisis contoh-contoh kasus.
  4. Memberikan minimal 2 contoh peristiwa usaha yang terjadi dan bukan usaha dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Menghitung besar usaha jika diketahui gaya dan perpindahan yang searah melalui latihan soal.
  6. Membedakan konsep gaya dan usaha berdasarkan aktivitas praktik atau simulasi.

 

III. MATERI PELAJARAN

  • Gaya:
    • Pengertian: tarikan atau dorongan.
    • Pengaruh: mengubah bentuk, arah gerak, kecepatan, posisi benda.
    • Satuan: Newton (N).
  • Usaha:
    • Pengertian: gaya yang menyebabkan perpindahan searah dengan arah gaya.
    • Rumus: W=F×s (W = Usaha, F = Gaya, s = Perpindahan).
    • Satuan: Joule (J).
    • Syarat terjadinya usaha.

 

IV. ALAT DAN SUMBER BELAJAR

  • Alat:
    • Papan tulis, spidol/kapur
    • Buku pelajaran IPA/Fisika Kelas VIII
    • Benda-benda di sekitar kelas (meja, kursi, buku, penghapus, balok kayu kecil, tali)
    • Neraca pegas/dinamometer sederhana (jika tersedia)
    • Gambar-gambar/ilustrasi terkait gaya dan usaha (misalnya: orang mendorong gerobak, memanah, mengangkat beban)
  • Sumber Belajar:
    • Buku Paket IPA/Fisika Kelas VIII
    • Lingkungan sekitar kelas dan sekolah

 

V. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

A. Pendahuluan (10 menit)

  1. Apersepsi: Guru membuka pelajaran dengan salam. Kemudian meminta siswa untuk melakukan aktivitas sederhana secara mandiri:
    • "Coba geser buku yang ada di mejamu!"
    • "Coba tekan meja dengan telapak tanganmu!"
    • "Coba lempar penghapus ke depan, lalu hentikan dengan tanganmu!"
    • Guru bertanya: "Apa yang kalian lakukan pada benda-benda tersebut? Apa yang terjadi pada benda-benda itu?" (Mengarahkan jawaban ke konsep gaya).
  2. Motivasi: Guru menyampaikan bahwa hari ini kita akan belajar tentang bagaimana kita bisa membuat benda bergerak atau berhenti, dan kapan suatu tindakan itu disebut "usaha" dalam ilmu fisika.
  3. Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan TIU dan TIK secara ringkas dan jelas agar siswa mengetahui apa yang akan mereka pelajari dan capai.

B. Kegiatan Inti (70 menit) - Pendekatan CBSA

  1. Mengenal Gaya Melalui Eksperimen Sederhana (30 menit)
    • Mengamati & Mencoba: Guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil (3-4 orang). Setiap kelompok diberikan instruksi untuk melakukan beberapa percobaan sederhana:
      • Mendorong balok kayu dengan tangan, lalu mengamati perubahan posisinya.
      • Menarik benda dengan tali, mengamati arah gerak.
      • Menekan spon/plastisin, mengamati perubahan bentuk.
      • Melempar bola dan menghentikannya.
    • Mendiskusikan: Guru meminta setiap kelompok mendiskusikan: "Apa yang menyebabkan benda-benda tadi bergerak, berubah bentuk, atau berhenti? Apa yang kalian lakukan pada benda-benda itu?"
    • Menyimpulkan: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi singkatnya. Guru memfasilitasi dan mengarahkan diskusi kelas untuk merumuskan pengertian gaya (tarikan atau dorongan) dan pengaruh-pengaruh gaya terhadap benda. (TIK 1 & 2 tercapai melalui aktivitas siswa).
    • Konfirmasi: Guru menambahkan informasi tentang satuan gaya (Newton).
  2. Memahami Usaha Melalui Analisis Contoh (30 menit)
    • Menghadirkan Masalah/Studi Kasus: Guru menampilkan beberapa gambar/skenario atau melakukan simulasi (misalnya: mendorong meja hingga berpindah; mendorong tembok sekuat tenaga tetapi tembok tidak bergerak; mengangkat buku; membawa tas berjalan di tempat datar).
    • Menganalisis: Guru meminta siswa dalam kelompok untuk menganalisis setiap skenario: "Apakah ada 'usaha' yang dilakukan dalam setiap peristiwa ini menurut pemahaman awal kalian? Mengapa ya/tidak?"
    • Mendefinisikan & Berpikir Kritis: Guru kemudian memperkenalkan konsep usaha dalam fisika (W=F×s). Guru menjelaskan bahwa usaha terjadi hanya jika ada gaya yang menyebabkan perpindahan dan arah gaya searah dengan perpindahan. Guru menanyakan kembali skenario sebelumnya: "Berdasarkan definisi fisika, mana yang termasuk usaha dan mana yang bukan?"
    • Menerapkan Rumus & Memecahkan Masalah: Guru memberikan contoh soal perhitungan usaha di papan tulis dan memandu siswa untuk menyelesaikannya bersama-sama.
      • Contoh Soal: "Seorang siswa mendorong meja dengan gaya 50 N sehingga meja berpindah sejauh 2 meter. Berapa usaha yang dilakukan siswa tersebut?"
    • Latihan Mandiri/Kelompok: Guru memberikan beberapa soal latihan serupa untuk dikerjakan siswa secara mandiri atau dalam kelompok. (TIK 3, 4, 5, 6 tercapai melalui analisis dan latihan).
  3. Refleksi & Aplikasi (10 menit)
    • Diskusi Kelas: Guru memfasilitasi diskusi tentang hubungan antara gaya dan usaha. "Apakah setiap gaya pasti menyebabkan usaha? Mengapa?"
    • Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari: Guru meminta siswa menyebutkan kembali contoh-contoh gaya dan usaha yang mereka temui di lingkungan sekitar mereka dan menjelaskan mengapa itu disebut gaya atau usaha. (TIK 7 tercapai).

C. Penutup (10 menit)

  1. Rangkuman/Konsolidasi: Guru bersama siswa membuat rangkuman poin-poin penting yang telah dipelajari mengenai gaya dan usaha. Guru memastikan konsep-konsep kunci sudah dipahami siswa.
  2. Umpan Balik: Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menyampaikan hal yang belum jelas.
  3. Tugas Rumah: Guru memberikan tugas rumah berupa soal latihan tambahan atau meminta siswa untuk mengidentifikasi 5 peristiwa gaya dan 5 peristiwa usaha di rumah/lingkungan mereka.
  4. Doa dan Salam Penutup: Guru menutup pelajaran.

 

VI. EVALUASI

A. Prosedur Evaluasi:

  • Evaluasi Proses: Observasi keaktifan siswa selama diskusi kelompok dan partisipasi dalam percobaan.
  • Evaluasi Hasil: Tes tertulis pada akhir pembelajaran.

B. Jenis Evaluasi:

  • Tes tertulis (isian singkat, uraian)
  • Penilaian kinerja (observasi saat percobaan)

C. Soal Evaluasi:

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan gaya! (Mengukur TIK 1)
  2. Sebutkan minimal tiga pengaruh gaya terhadap suatu benda! (Mengukur TIK 2)
  3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan usaha dalam fisika! (Mengukur TIK 3)
  4. Berikan satu contoh peristiwa yang merupakan usaha, dan satu contoh peristiwa yang bukan usaha menurut fisika! (Mengukur TIK 4)
  5. Sebuah gerobak ditarik dengan gaya 150 N dan berpindah sejauh 10 meter. Hitunglah usaha yang dilakukan! (Tunjukkan langkah-langkahnya) (Mengukur TIK 5)
  6. Andi mendorong tembok dengan sekuat tenaga tetapi tembok tidak bergerak. Sedangkan Budi mendorong meja hingga berpindah 3 meter. Jelaskan mengapa tindakan Budi dikatakan melakukan usaha, sedangkan Andi tidak! (Mengukur TIK 6)

 

Coba bandingkan RPP Kurikulum 1984 di atas dengan RPP Kurikulum 1975, terdapat perbedaan pada bagian kegiatan belajar mengajar, di sana nampak bahwa kurikulum 1984 menganut pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).

 

 

Daftar Pustaka :

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1984). Kurikulum Sekolah Dasar (atau Menengah Umum/Kejuruan) 1984. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1984). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum 1984. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1983.

Hamalik, Oemar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa, E. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pidarta, Made. (2017). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanjaya, Wina. (2013). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2012). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM MERDEKA

KURIKULUM KTSP

KURIKULUM 1975