KURIKULUM KBK



Penulis :
Lukman Hidayatullah, S.T., M.Pd.
Guru SMKN 2 Kota Serang

KURIKULUM KBK

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004. KBK merupakan tonggak penting dalam sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia, yang menandai pergeseran paradigma dari kurikulum berbasis materi ke kurikulum berbasis hasil belajar yang menekankan pada penguasaan kompetensi.

 

LATAR BELAKANG

Lahirnya KBK 2004 dilatarbelakangi oleh beberapa faktor utama, baik dari evaluasi kurikulum sebelumnya maupun tuntutan global dan nasional:

1. Kritik terhadap Kurikulum 1994: Kurikulum 1994 (yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, termasuk penggabungan muatan lokal) dinilai masih terlalu padat, berorientasi pada target materi, dan kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan zaman. Pembelajaran cenderung masih bersifat teacher-centered dan kurang mengembangkan potensi siswa secara utuh.

2. Perkembangan IPTEK dan Globalisasi: Era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang pesat menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan adaptif dari lulusan pendidikan. Kurikulum sebelumnya dianggap kurang mengakomodasi kebutuhan ini.

3. Tuntutan Desentralisasi Pendidikan: Pasca-Reformasi, terjadi dorongan kuat untuk desentralisasi pendidikan, memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah dan sekolah dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal. KBK berupaya mengakomodasi fleksibilitas ini.

4. Amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. KBK 2004 menjadi implementasi awal dari amanat undang-undang ini, meskipun UU ini sendiri baru disahkan di tahun 2003 saat KBK sudah mulai diujicobakan.

5. Pergeseran Paradigma Pendidikan Global: Adanya tren global dalam pengembangan kurikulum yang bergeser dari kurikulum berbasis materi ke kurikulum berbasis kompetensi, di mana fokusnya adalah pada apa yang dapat dilakukan siswa setelah belajar (hasil belajar), bukan hanya apa yang telah diajarkan.

6. Kebutuhan akan Lulusan yang Kompeten: Dunia industri dan masyarakat membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan (skill) dan sikap (attitude) yang relevan dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan.

 

TUJUAN

Tujuan utama KBK 2004 adalah mengarahkan pendidikan pada penguasaan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan hidup siswa dan tuntutan perkembangan zaman. Tujuan ini mencakup:

1. Menghasilkan Sumber Daya Manusia yang Kompeten: Menyiapkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terintegrasi (kompetensi) sehingga mampu menghadapi tantangan hidup, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

2. Mengembangkan Potensi Siswa Secara Optimal: Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakatnya secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik.

3. Meningkatkan Relevansi Pendidikan: Menjadikan pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan perkembangan IPTEK.

4. Mendorong Pembelajaran Aktif dan Bermakna: Mendorong pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), di mana siswa menjadi pusat pembelajaran.

5. Memberikan Otonomi kepada Sekolah dan Guru: Memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan guru untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal, namun tetap dalam kerangka standar kompetensi yang ditetapkan.

 

DASAR HUKUM

Dasar hukum utama yang melandasi diberlakukannya KBK 2004 adalah:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS): Pasal 35 ayat (2) mengamanatkan bahwa "Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik." Pasal 36 ayat (2) menyebutkan "Kurikulum semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan berdasarkan standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional." Ayat (3) menyatakan "Kurikulum dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan."

2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP): Meskipun PP ini diterbitkan setelah KBK mulai diimplementasikan, PP ini memvalidasi dan memperkuat landasan hukum bagi kurikulum berbasis standar (yang kemudian mengarah ke KTSP). Pasal-pasal dalam PP ini mengatur tentang standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian yang merupakan inti dari pendekatan berbasis kompetensi.

3. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah: Keputusan ini menjadi payung hukum utama yang mengawali implementasi KBK secara luas.

4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2003 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum dan Silabus Sekolah: Memberikan panduan teknis bagi sekolah dalam menyusun kurikulum dan silabus berdasarkan pendekatan kompetensi.

 

CIRI-CIRI UTAMA

Ciri-ciri utama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 meliputi:

1. Berbasis Kompetensi: Fokus pada pencapaian kompetensi siswa, yaitu perpaduan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi ini dirumuskan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

2. Berpusat pada Siswa (Student-Centered): Pembelajaran diarahkan untuk mengaktifkan siswa, mendorong mereka untuk mencari, menemukan, dan membangun pengetahuannya sendiri melalui berbagai pengalaman belajar.

3. Berorientasi pada Hasil Belajar (Learning Outcomes): Penekanan pada apa yang dapat dilakukan siswa setelah proses pembelajaran, bukan hanya pada materi yang diajarkan.

4. Pendekatan Kontekstual: Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata siswa dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

5. Fleksibel dan Diversifikasi: Memberikan ruang bagi sekolah dan daerah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal, serta karakteristik peserta didik.

6. Penilaian Berbasis Kompetensi: Penilaian tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap. Penilaian dilakukan secara berkelanjutan dan otentik untuk mengetahui penguasaan kompetensi siswa.

7. Kompetensi Lintas Kurikulum (Life Skills): Mengembangkan keterampilan hidup (life skills) yang terintegrasi di seluruh mata pelajaran, seperti kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kolaborasi.

 

PERANGKAT PEDOMAN PELAKSANAAN

Perangkat pedoman pelaksanaan KBK 2004 dirancang untuk membantu guru dan sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi. Ini meliputi:

1. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD): Dokumen utama yang merumuskan kompetensi yang harus dikuasai siswa pada setiap jenjang pendidikan dan mata pelajaran. SK adalah rumusan kemampuan umum yang harus dicapai, sedangkan KD adalah kemampuan spesifik yang menjadi rincian SK.

2. Silabus: Rencana pembelajaran untuk satu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus ini bersifat nasional namun bisa disesuaikan oleh sekolah.

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Pedoman operasional bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. RPP KBK menekankan pada aktivitas pembelajaran yang mendorong siswa untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, seringkali menggunakan model pembelajaran aktif.

4. Panduan Penilaian Berbasis Kompetensi: Dokumen yang menjelaskan prinsip-prinsip, teknik, dan instrumen penilaian yang relevan untuk mengukur penguasaan kompetensi (pengetahuan, keterampilan, sikap) siswa secara otentik.

5. Buku Teks Pelajaran: Buku yang disusun sesuai dengan standar isi dan kompetensi, dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis kompetensi.

6. Pedoman Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): Meskipun KTSP baru resmi diberlakukan pada tahun 2006, semangat otonomi dan diversifikasi dalam KBK menjadi dasar bagi pengembangan KTSP. Panduan ini mendorong sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan konteks lokal.

 

KESIMPULAN

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 merupakan upaya fundamental untuk mentransformasi pendidikan di Indonesia agar lebih relevan, efektif, dan menghasilkan lulusan yang benar-benar kompeten. Dengan fokus pada apa yang dapat dilakukan siswa (kompetensi) daripada hanya apa yang diajarkan (materi), KBK berusaha menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan berpusat pada siswa.

Meskipun KBK tidak bertahan lama dan kemudian disempurnakan menjadi KTSP pada tahun 2006 (yang pada dasarnya melanjutkan semangat KBK dengan memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah), KBK telah meletakkan fondasi penting bagi pengembangan kurikulum berbasis standar dan kompetensi di Indonesia. Konsep-konsep seperti SK, KD, pembelajaran aktif, dan penilaian otentik yang diperkenalkan oleh KBK tetap relevan dan menjadi dasar bagi kurikulum-kurikulum selanjutnya. Tantangan utama KBK adalah pemahaman dan kesiapan guru dalam mengimplementasikannya, yang seringkali membutuhkan pelatihan dan pendampingan yang intensif.

 

RPP KURIKULUM KBK

Dalam KBK, RPP tidak hanya berisi tujuan, tetapi juga fokus pada Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi, dan aktivitas pembelajaran yang berpusat pada siswa serta penilaian autentik.

 

CONTOH RPP KURIKULUM KBK

Mata Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) / Fisika

Kelas/Semester: VIII / 2

Materi Pokok: Gaya dan Usaha

Alokasi Waktu: 4 x 45 menit (2 Pertemuan)

A. STANDAR KOMPETENSI (SK)

Memahami konsep gaya dan usaha dalam kehidupan sehari-hari.

B. KOMPETENSI DASAR (KD)

  1. Menganalisis konsep gaya dan pengaruhnya terhadap benda.
  2. Menganalisis konsep usaha dan hubungannya dengan energi.

C. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Pertemuan 1 (Gaya):

  1. Menjelaskan pengertian gaya sebagai tarikan atau dorongan.
  2. Mengidentifikasi berbagai pengaruh gaya terhadap gerak dan bentuk benda (misalnya: mengubah arah, kecepatan, bentuk, dan posisi).
  3. Menyebutkan satuan gaya (Newton) dan alat ukurnya (dinamometer/neraca pegas).
  4. Melakukan percobaan sederhana untuk menunjukkan pengaruh gaya.

Pertemuan 2 (Usaha):

  1. Menjelaskan pengertian usaha dalam fisika.
  2. Memberikan contoh peristiwa usaha dan bukan usaha dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menghitung besar usaha jika diketahui gaya dan perpindahan yang searah.
  4. Mengaplikasikan konsep gaya dan usaha dalam memecahkan masalah sederhana.

 

D. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pengertian gaya dengan benar.
  2. Mengidentifikasi 3 pengaruh gaya terhadap benda.
  3. Melakukan percobaan sederhana untuk menunjukkan adanya gaya.
  4. Menjelaskan pengertian usaha dalam fisika.
  5. Memberikan 2 contoh peristiwa usaha dan bukan usaha.
  6. Menghitung usaha dengan rumus W=F×s.
  7. Menganalisis hubungan antara gaya dan usaha dalam konteks kehidupan sehari-hari.

 

E. MATERI PEMBELAJARAN

  • Gaya:
    • Pengertian gaya (tarikan/dorongan).
    • Pengaruh gaya terhadap gerak dan bentuk benda (mengubah arah, kecepatan, bentuk, dan posisi).
    • Satuan dan alat ukur gaya.
  • Usaha:
    • Pengertian usaha dalam fisika (gaya yang menyebabkan perpindahan searah).
    • Syarat terjadinya usaha.
    • Rumus usaha: W=F×s (Usaha, Gaya, Perpindahan) dan satuannya (Joule).
    • Contoh penerapan usaha dalam kehidupan sehari-hari.

 

F. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

  • Model: Pembelajaran Kooperatif, Discovery Learning (Penemuan Terbimbing)
  • Metode: Diskusi kelompok, Demonstrasi, Eksperimen sederhana, Tanya jawab, Penugasan.

 

G. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN

  • Sumber:
    • Buku IPA/Fisika kelas VIII (sesuai kurikulum)
    • LKS (Lembar Kerja Siswa)
    • Internet (jika memungkinkan)
    • Lingkungan sekitar
  • Media:
    • Papan tulis/Whiteboard
    • Spidol/kapur
    • PowerPoint (jika ada LCD Proyektor)
    • Alat percobaan sederhana (balok kayu, tali, karet gelang, neraca pegas/dinamometer, mobil-mobilan, timbangan sederhana)
    • Gambar/video ilustrasi gaya dan usaha

 

H. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Konsep Gaya

1. PENDAHULUAN (15 MENIT)

* Apersepsi: Guru membuka pelajaran dengan salam. Guru menunjukkan beberapa benda (misalnya: buku, penghapus) dan meminta siswa untuk melakukan aksi: mendorong, menarik, menekan, mengubah bentuk, dll. Guru bertanya: "Apa yang kalian lakukan pada benda-benda ini? Mengapa benda bisa bergerak atau berubah?" (Mengaitkan dengan konsep gaya).

* Motivasi: Guru menjelaskan pentingnya memahami konsep gaya dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, saat bergerak, bermain, atau melakukan pekerjaan).

* Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan SK, KD, dan indikator pencapaian kompetensi yang akan dicapai pada pertemuan ini.

2. KEGIATAN INTI (60 MENIT)

Eksplorasi Konsep Gaya (Discovery Learning)

* Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (4-5 orang).

* Setiap kelompok dibagikan LKS yang berisi instruksi untuk melakukan percobaan sederhana:

§  Mendorong/menarik balok di lantai, mengamati gerak.

§  Menarik karet gelang, mengamati perubahan bentuk.

§  Mendorong mobil-mobilan, lalu menghambat geraknya.

§  Mengukur berat benda menggunakan neraca pegas (jika ada).

* Siswa melakukan percobaan sesuai LKS dan mencatat hasil pengamatan.

* Siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan dalam LKS: "Apa yang menyebabkan benda bergerak/berhenti? Apa yang menyebabkan bentuk benda berubah? Apa yang disebut gaya?"

 

Penguatan Konsep dan Diskusi Kelas

* Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.

* Guru memfasilitasi diskusi kelas untuk menyamakan persepsi dan merumuskan pengertian gaya serta berbagai pengaruh gaya terhadap benda.

* Guru menjelaskan satuan gaya (Newton) dan alat ukurnya (dinamometer/neraca pegas) serta mengaitkannya dengan kegiatan yang sudah dilakukan siswa (misalnya, mengukur gaya berat).

* Aplikasi dan Latihan: Guru memberikan contoh-contoh gaya dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk mengidentifikasi jenis gaya serta pengaruhnya.

 

3. PENUTUP (15 MENIT)

* Guru bersama siswa merangkum konsep gaya dan pengaruhnya.

* Guru memberikan tugas rumah untuk mencari contoh-contoh gaya lain di lingkungan sekitar dan menjelaskan pengaruhnya.

* Guru menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya (usaha).

 

PERTEMUAN 2 (2 X 45 MENIT): KONSEP USAHA

1. Pendahuluan (15 menit)

* Apersepsi: Guru mengulang sedikit tentang konsep gaya dari pertemuan sebelumnya. Guru bertanya: "Ketika kalian mendorong meja, apakah meja itu selalu berpindah? Jika tidak berpindah, apakah ada gaya yang kalian berikan?" (Mengaitkan dengan kondisi usaha).

* Motivasi: Guru menjelaskan bahwa tidak semua gaya yang diberikan akan menghasilkan "usaha" dalam fisika. Hari ini kita akan memahami kapan suatu kegiatan disebut usaha.

* Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan indikator pencapaian kompetensi yang akan dicapai pada pertemuan ini.

 

2. Kegiatan Inti (60 menit)

Analisis Konsep Usaha (Discovery Learning)

* Guru menampilkan beberapa skenario atau video singkat (jika ada) yang menunjukkan aktivitas:

* Seseorang mendorong tembok sekuat tenaga, tembok tidak bergerak.

* Seseorang mendorong lemari hingga berpindah beberapa meter.

* Seseorang mengangkat karung beras. * Seseorang membawa tas dan berjalan di tempat datar.

* Guru membagi siswa ke dalam kelompok dan memberikan LKS yang berisi skenario-skenario tersebut.

* Siswa dalam kelompok menganalisis setiap skenario dan mendiskusikan pertanyaan: "Menurut kalian, di mana usaha terjadi? Mengapa?"

 

Penguatan Konsep dan Perumusan (Diskusi Terbimbing)

* Guru meminta perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil analisisnya.

* Guru memfasilitasi diskusi dan merumuskan pengertian usaha dalam fisika (W=F×s) serta syarat terjadinya usaha (ada gaya dan perpindahan searah). Guru menekankan perbedaan "usaha" dalam fisika dengan "usaha" dalam kehidupan sehari-hari. (Indikator 1 & 2 tercapai).

* Guru menjelaskan rumus usaha dan satuannya (Joule).

Penerapan Konsep dan Latihan Soal

* Guru memberikan contoh soal perhitungan usaha di papan tulis dan memandu siswa secara bertahap untuk menyelesaikannya.

* Contoh soal: Seorang pekerja mendorong gerobak dengan gaya 120 N sejauh 5 meter. Berapa usaha yang dilakukan pekerja tersebut? * Guru memberikan beberapa soal latihan kepada siswa untuk dikerjakan secara mandiri atau dalam kelompok. Guru berkeliling membimbing siswa. (Indikator 3 tercapai).

* Diskusi Aplikasi: Guru meminta siswa untuk memberikan contoh lain aplikasi gaya dan usaha dalam kehidupan sehari-hari dan menjelaskan mengapa itu disebut usaha. (Indikator 4 tercapai).

 

3. PENUTUP (15 MENIT)

* Guru bersama siswa merangkum konsep usaha, rumus, dan perbedaannya dengan gaya.

* Guru memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran dan pemahaman siswa.

* Guru memberikan evaluasi/tes singkat di akhir pertemuan.

* Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal tambahan.

 

I. PENILAIAN

1. Jenis Penilaian:

* Penilaian Kinerja/Proses: Observasi keaktifan siswa selama diskusi kelompok, partisipasi dalam percobaan, dan kemampuan berkolaborasi (saat kegiatan inti).

* Penilaian Tertulis: Tes individual (esai, isian singkat, perhitungan) di akhir pembelajaran.

* Penilaian Portofolio: Pengumpulan LKS dan hasil tugas rumah.

 

2. Bentuk Instrumen:

* Lembar Observasi untuk penilaian kinerja.

* Soal Tes Tertulis:

* Esai: "Jelaskan perbedaan antara gaya dan usaha dalam fisika, berikan contoh masing-masing!" (Mengukur kemampuan menjelaskan dan membedakan konsep)

* Perhitungan: "Sebuah lemari didorong dengan gaya 200 N. Jika lemari berpindah sejauh 4 meter, hitunglah usaha yang dilakukan!" (Mengukur kemampuan menghitung)

* Studi Kasus: "Seorang anak mengangkat tasnya dari lantai ke atas meja. Apakah anak tersebut melakukan usaha? Jelaskan alasanmu!" (Mengukur kemampuan analisis dan aplikasi konsep)

* LKS: Sebagai catatan kerja siswa.

 

Daftar Pustaka:

Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2003 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum dan Silabus Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hamalik, Oemar. (Edisi Revisi Terbaru, contoh: 2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Majid, Abdul. (2005). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nana Syaodih Sukmadinata. (Edisi Revisi Terbaru, contoh: 2012). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pusat Kurikulum, Balitbang, Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran (untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, atau SMK/MAK). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sanjaya, Wina. (Edisi Revisi Terbaru, contoh: 2013). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretariat Negara.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM MERDEKA

KURIKULUM KTSP

KURIKULUM 1975