METODIK
Telah kita
pelajari sebelumnya bahwa, “Didaktik Khusus” atau disebut juga “Metodik”, yakni
cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan asas-asas didaktik.
Cara mengajar
suatu mata pelajaran, secara umum dapat dinyatakan berbeda – beda. Cara
mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia akan berbeda dengan cara mengajar mata
pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), atau Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA). Walaupun tidak sepenuhnya mutlak, ada beberapa konsep atau materi yang
dapat diajarkan dengan metode yang sama.
Fungsi metode
mengajar dalam keseluruhan sistem pengajaran adalah sebagai alat untuk mencapai
tujuan pengajaran. Ini berarti, tujuan pengajaran berfungsi sebagai pedoman
bagi kita untuk menentukan metode mengajar yang akan kita gunakan. Jadi masalah
pemilihan metode yang tepat, kuncinya terletak pada kemampuan kita dalam
mengembangkan dan merumuskan tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
Dari uraian
singkat di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa langkah pertama yang
harus ditempuh sebelum kita menentukan metode mengajar yang akan kita gunakan
ialah merumuskan tujuan pengajaran. Langkah berikutnya ialah menentukan atau
memilih metode mengajar yang secara rasional dipandang paling cocok. Dalam hal
ini biasanya kita tidak menggunakan satu jenis metode, mungkin saja menggunakan
beberapa metode, yang disebut dengan multi metode.
Berikut metode –
metode pengajaran yang perlu diketahui :
A. METODE
CERAMAH
Metode
ceramah ialah suatu cara pemberian pelajaran dengan penerangan dan
penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswa. Walaupun guru masih dapat
menggunakan alat-alat peraga namun yang pokok di sini ialah berbicara. Peranan
siswa dalam metode ceramah : mendengarkan dengan teliti serta mencatat
pokok-pokok pelajaran yang dikemukakan oleh guru. Metode ceramah digunakan,
apabila :
1. Guru
hendak memperkenalkan pokok bahasan baru dalam hubungannya dengan apa yang
telah diketahui atau yang telah dipelajari siswa (ingat asas apersepsi).
2. Guru
hendak mengemukakan pokok-pokok penting (sebagai rangkuman) mengenai bahan
pengajaran yang akan diberikan pada permulaan atau pada akhir pelajaran.
3. Guru
hendak menjelaskan kesalahan-kesalahan umum yang dibuat oleh sebagian besar
anak mengenai suatu atau beberapa masalah tertentu atau kesulitan-kesulitan
yang tak dapat diatasi sendiri oleh siswa.
4. Guru
hendak membangkitkan minat, semangat, sikap, dan apresiasi pada siswa
terhadap sesuatu hal.
Contoh:Untuk
membangkitkan minat dan apresiasi pada siswa terhadap pengajaran sejarah
nasional umpamanya (termasuk pembinaan terhadap semangat patriotisme dan
kesadaran nasional), guru dengan ceramahnya yang berapi-api menjelaskan kepada
siswa bagaimana bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaanya.
5. Keadaan
tidak memungkinkan digunakan metode-metode mengajar yang Iain karena faktor
- faktor tertentu seperti tidak adanya atau sangat kurangnya sumber informasi
yang dapat diperoleh anak dan guru menghadapi jumlah siswa yang terlalu besar.
6. Usaha
untuk meningkatkan efektifitas. Metode ceramah dapat divariasikan dengan
kegiatan tanya jawab untuk membangkitkan minat perhatian siswa.
B. METODE
DISKUSI
Diskusi
adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi
maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dalam rangka mencari
jawaban/penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Diskusi
dapat dikelompokkan menjadi diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, diskusi
terpimpin maupun tanpa dipimpin oleh guru. Metode ini sangat efektif untuk
melatih keberanian dan keterampilan anak dalam berkomunikasi dan mengemukakan
pendapat. Tetapi sebelumnya, siswa harus diarahkan, dibimbing, dan tentunya
dibekali pengetahuan yang cukup oleh guru melalui pemberian materi dan
informasi, baik daring maupun luring. Dan guru harus dapat mengukur kemampuan
berbahasa siswa apakah sudah memadai. Sebagaimana contoh, siswa SD kelas 1
sampai kelas 4 pada dasarnya kemampuan diskusi siswa masih sangat lemah. Siswa Kelas
5-6 SD (Usia 10-12 Tahun) sudah mulai matang dalam berpikir dan berinteraksi,
sehingga sudah dapat diterapkan metode diskusi.
Bahan yang
didiskusikan juga harus sesuai dengan jangkauan materi, Lon atau Logaritma
dalam matematik tidak cocok didiskusikan, guru harus mampu menetapkan materi atau
bagian apa saja yang dapat didiskusikan itu. Secara umum, konsep-konsep yang
bersifat kompleks, multi-interpretasi, membutuhkan analisis mendalam, atau
terkait dengan pemecahan masalah, tentunya cocok untuk didiskusikan,
sebagaimana contoh :
1. Isu
Sosial, Ekonomi, dan Politik Kontemporer:
Misalnya, dampak
media sosial terhadap masyarakat, perubahan iklim, isu-isu keadilan sosial,
kebijakan pemerintah, atau perkembangan ekonomi global. Diskusi ini membantu
siswa menghubungkan teori dengan realitas.
2. Analisis
Teks Sastra dan Sejarah:
Menganalisis
motif karakter dalam novel, makna di balik puisi, atau berbagai perspektif
terhadap suatu peristiwa sejarah. Ini mendorong interpretasi mendalam dan
pemahaman nuansa.
3.
Konsep-konsep Filsafat dan Etika:
Mendiskusikan
dilema moral, konsep keadilan, kebebasan, atau tujuan hidup. Topik ini
seringkali tidak memiliki jawaban tunggal, sehingga diskusi menjadi sarana
eksplorasi.
4. Pemecahan
Masalah dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA):
Pada matematik
dan IPA ini, diskusi dapat digunakan untuk membahas strategi pemecahan masalah
yang berbeda, menganalisis data percobaan, atau membahas implikasi etis dari
penemuan ilmiah (misalnya, rekayasa genetika).
5.
Perbandingan Teori atau Paradigma:
Dalam pelajaran
seperti Sosiologi, Geografi, atau Ekonomi, membandingkan berbagai teori atau
pendekatan terhadap suatu fenomena.
SELANJUTNYA
: berkaitan dengan hal – hal penyelenggaraan metode diskusi :
PERANAN
PEMIMPIN DISKUSI :
Guru atau
seorang siswa sebagai pemimpin diskusi mempunyai peranan sebagai berikut :
1. Sebagai Pengatur
Lalu Lintas
Bertugas
mengatur jalannya diskusi agar menjadi lancar:
a. Dengan
jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada anggota kelompok tertentu.
b. Menjaga
agar anggota berbicara menurut giliran (tidak serentak). Menjaga agar diskusi tidak dikuasai oleh
siswa-siswa tertentu yang gemar bicara.
c. Memberi
kesempatan kepada siswa-siswa tertentu (misalnya yang pemalu) untuk
mengemukakan pendapatnya.
d. Mengatur
pembicaraan agar didengar oleh semua anggota.
2. Sebagai Dinding
Penangkis
Di sini tugas
pemimpin diskusi ialah menerima pertanyaan-pertanyaan dari anggota kemudian
melemparkannya kembali kepada anggota. Jangan sampai terjadi tanya jawab antar
kelompok kecil saja. Usahakan seluruh anggota kelompok aktif berpartisipasi.
3. Sebagai Penunjuk
Jalan
Tugas
pemimpin di sini ialah memberikan pengarahan kepada anggota tentang masalah
yang akan didiskusikan sehingga dengan demikian tidak timbul
pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung. Oleh sebab itu ruang lingkup diskusi
harus jelas.
C. METODE
TANYA JAWAB
Metode tanya
jawab adalah strategi pembelajaran yang melibatkan komunikasi dua arah
antara guru dan siswa (atau sebaliknya) melalui pengajuan pertanyaan dan
pemberian jawaban. Dalam metode ini, guru mengajukan pertanyaan untuk memancing
pemikiran siswa, mengecek pemahaman, atau merangsang diskusi, dan siswa
memberikan respons. Sebaliknya, siswa juga diberi kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan kepada guru atau sesama teman jika ada hal yang belum dipahami.
Ciri utama
metode ini adalah adanya interaksi langsung dan timbal balik yang memungkinkan
guru dan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Metode ini harus mengalir dan
terbangun secara alamiah, tidak ada penekanan atau prosedur yang ketat. Metode
tanya jawab dipergunakan jika :
1. Guru
hendak meletakkan hubungan antara pelajaran yang lalu atau pengetahuan yang
telah dimiliki siswa dengan materi baru (apersepsi).
2. Guru
hendak membangkitkan perhatian dan semangat belajar anak pada saat suasana
kelas menunjukkan kelesuan.
3. Guru
hendak mendorong aktivitas dan partisipasi dari semua anak (dengan
pertanyaan setiap siswa terpaksa aktif berfikir dan mengingat)
4. Guru
hendak mendorong keberanian siswa untuk
mengemukakan pikirannya.
5. Menjelang
akhir pelajaran guru ingin mengetahui sejauh
mana bahan pengajaran telah dipahami siswa dalam garis besarnya.
6. Guru
hendak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
mengenai hal - hal yang belum dipahaminya, baik yang berhubungan dengan
pelajaran yang lalu maupun yang dengan pelajaran yang sedang dibicarakan. Guru
harus menyiapkan suatu kondisi agar siswa suka dan biasa bertanya.
Beberapa hal
yang perlu mendapat perhatian di dalam penyelenggaraan
tanya-jawab :
1. Pertanyaan
hendaknya ditujukan kepada kelas, sehingga setiap siswa merasa diberi
kesempatan untuk menjawab pertanyaan.
2. Pertanyaan-pertanyaan
hendaknya tidak keluar dari ruang lingkup bahan pengajaran yang telah
diajarkan.
3. Pertanyaan-pertanyaan
hendaknya mencakup dan mewakili tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
4. Bahan yang
ditanyakan cukup dipilih mengenai pokok-pokok yang penting saja.
5. Pertanyaan
hendaknya berupa kalimat tanya yang singkat dan jelas batas-batasnya,
sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang bermacam - macam dan memungkinkan
berbagai jawaban.
6. Guru
hendaknya membimbing dan mengarahkan pengamatan atau pemikiran siswa
terhadap sesuatu hal yang sedang dihadapi.
7. Setiap
pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu pokok pikiran.
8. Pertanyaan
berbentuk uraian. Oleh sebab itu jawabannya pun harus berbentuk uraian
pula.
9. Pertanyaan
hendaknya diajukan ketika suasana kelas dalam keadaan tenang dan
siswa-siswa telah menunjukkan kesiapan mental.
10. Setiap
jawaban anak hendaknya dihargai, jangan sampai mempunyai kesan bahwa jawabannya
tidak dihargai. Lebih-lebih kalau salah, guru hendaklah bijaksana dalam
menghargainya.
11. Dalam
hubungan dengan pertanyaan dari siswa, guru hendaknya berusaha
membangkitkan keberanian siswa untuk bertanya.
12. Guru
hendaknya memberi petunjuk bagaimana cara mengajukan pertanyaan yang baik.
13. Sebelum
guru menjawab pertanyaan siswa, lebih baik pertanyaan itu diajukan terlebih
dulu kepada kelas. Jika kemudian ternyata tak seorang pun dapat menjawabnya,
baru gurulah yang menjawabnya secara tidak langsung.
14. Guru
harus menguasai beberapa teknik bertanya sesuai tujuannya. Untuk memancing
berfikir kreatif, guru mengajukan pertanyaan terbuka, profokatif dan lain-lain.
Misalnya, apa saja yang dapat dijadikan makanan pokok? (pertanyaan terbuka).
Apa yang terjadi jika tidak ada orang yang mau menjadi guru? (pertanyaan
profokatif).
METODE
LATIHAN SIAP (DRILL)
Latihan siap
atau drill sangat sesuai untuk melatih keterampilan, baik keterampilan fisik
maupun keterampilan mental. Karena hanya dengan latihan, suatu keterampilan
dapat dikuasai. Drill berhubungan dengan pembentukan asosiasi-asosiasi mental
yang siap untuk direproduksi seperti : definisi-definisi, tahun-tahun,
simbol-simbol, rumus-rumus dan perbendaharaan kata atau kosa kata.
Latihan atau
"practice" mempunyai pengertian yang lebih luas daripada
drill. Latihan atau praktek berhubungan dengan pembentukan kemahiran atau
kecakapan, apakah itu suatu kemahiran yang bersifat motoris (fisik) ataukah
suatu kemahiran yang bersifat penyesuaian seperti : kemahiran untuk memecahkan
suatu soal atau kecakapan dalam penyesuaian diri terhadap suatu situasi. Dalam
melaksanakan latihan siap, langkah-langkah sebagai berikut dapat ditempuh :
1. Sebelum
latihan dilaksanakan, siswa-siswa harus diberi penjelasan mengenai arti
atau manfaat dan tujuan dari latihan tersebut. Hal ini penting untuk
membangkitkan motivasi belajar pada siswa-siswa dan agar latihan itu tidak
bersifat verbalistis atau bersifat mekanistis.
2. Latihan hendaknya
dilakukan secara bertahap,dimulai dari yang sederhana kemudian meningkat ke
taraf yang lebih kompleks atau sulit.
3. Prinsip-prinsip
dasar pengerjaan latihan hendaknya telah diberikan kepada anak.
4. Selama
latihan berlangsung, perhatikanlah bagian-bagian mana yang oleh sebagian
besar siswa dirasakan sulit.
5. Latihan
pada bagian-bagian yang dipandang sulit itu hendaknya lebih intensif. Pergunakanlah kalau ada
alat-alat pelajaran yang dapat membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.
6. Perbedaan
individual siswa perlu diperhatikan. Kesulitan yang dialami oleh seorang
siswa perlu mendapat bantuan secara khusus pula.
7. Jika suatu
latihan telah dikuasai siswa, taraf berikutnya adalah aplikasinya. Oleh karena itu diusahakan agar
konsep yang dilatihkan ada hubungannya
dengan kehidupan sehari-hari.
METODE TUGAS
(RESITASI)
Istilah
”PR" atau pekerjaan rumah telah dikenal secara luas dan dipandang
sebagai penggunaan metode tugas. Namun pengertian metode tugas mempunyai ruang
lingkup yang jauh lebih luas dari pada pekerjaan rumah semata. Pada prinsipnya
metode tugas adalah suatu metode mengajar, dengan metode ini guru membelajarkan
siswa-siswanya dengan memberi tugas
kepada mereka untuk diselesaikan dan dipertanggungjawabkan. Tugas tersebut
dapat diberikan kepada siswa-siswa secara perorangan, kelompok atau secara
klasikal. Pengerjaannya mungkin harus dilakukan di sekolah dan atau di luar
sekolah, seperti : di dalam kelas, di laboratorium, di perpustakaan di halaman
atau kebun sekolah, di rumah atau di tempat-tempat lain sesuai dengan sifat
dari tugas itu sendiri. Tugas itu dapat berupa : melakukan eksperimen,
mengumpulkan bahan-bahan informasi, membaca atau mempelajari suatu bab atau
topik tertentu dari suatu buku, mengerjakan soal-soal, menyelesaikan
tugas-tugas kerajinan tangan dan lain-lain. Tugas hendaknya berhubungan dengan
bahan pengajaran yang telah dipelajari anak.
Metode tugas
dipergunakan apabila :
1. Suatu
pokok bahasan atau aspek-aspek tertentu memerlukan latihan yang lebih
banyak di luar jam pelajaran atau memerlukan penjelasan lebih lanjut melalui
eksperimen atau sumber-sumber informasi lain yang lebih luas.
2. Ruang
lingkup bahan pengajaran terlalu luas, sedangkan waktu yang disediakan
tidak memadai. Guru hanya mampu menerangkan bahan pengajaran tersebut dalam
garis besarnya saja. Bahkan sering terjadi bahan tidak dapat diselesaikan
menurut waktu yang telah ditetapkan.
3. Suatu
pekerjaan yang tak mungkin dapat diselesaikan selama jam pelajaran. Hal ini
pada umumnya terjadi pada pelajaran-pelajaran seperti : menggambar dan
pekerjaan tangan. Biasanya guru memberikan tugas kepada siswa-siswa untuk menyelesaikannya di
rumah.
4. Dalam
keadaan darurat, misalnya karena sesuatu hal guru tidak dapat mengajar baik
untuk sebagian maupun seluruh jam pelajaran, sedangkan guru lain tidak dapat menggantikannya.
5. Suatu
pokok bahasan perlu pendalaman/perhatian melalui latihan mandiri.
Beberapa hal
yang perlu mendapat perhatian :
1. Janganlah
memberikan tugas yang berhubungan dengan bahan pengajaran yang belum
diajarkan, kecuali sebagai bahan yang akan diajarkan, misalnya kliping.
2. Tugas
hendaknya dirasakan penting oleh setiap siswa.
3. Tugas
hendaknya jelas batas-batasnya.
4. Usahakan
mempersiapkan format atau lembar kerja yang diperlukan.
5. Guru
hendaknya mempelajari dengan sungguh-sungguh, apakah suatu tugas dapat
disesuaikan dengan perbedaan siswa secara perorangan atau tidak.
6. Perhatikan
juga waktu yang ada pada siswa-siswa. Dalam hubungan ini, selidiki pula
apakah siswa-siswa mendapat tugas dari guru-guru lain yang menuntut penyelesaian dalam waktu yang
relatif bersamaan atau berdekatan dengan tugas yang kita berikan. Oleh karena
itu guru harus mempunyai ancang-ancang waktu, misalnya : mata pelajaran IPA di
kelas, 4 x 40 menit satu minggu, maka tugas yang diberikan harus dapat
diselesaikan siswa 30/ 100 x 160 = 48 menit. Kalau 2 kali memberi tugas, maka
setiap kali tugas dapat diselesaikan siswa 24 menit.
7. Tugas (PR)
hendaknya diperiksa sendiri oleh guru dan jangan diperiksa oleh siswa, agar
guru dapat mengetahui sampai dimana kemampuan anak dalam memahami/mendalami
materi yang telah diberikan.
Sebuah Catatan
Penting !
Penting untuk
dicatat bahwa implementasi PR yang efektif memerlukan pertimbangan. Beberapa
hal yang sering menjadi perhatian adalah:
1. Kuantitas:
Terlalu banyak PR dapat menyebabkan stres dan mengurangi waktu siswa untuk
kegiatan lain yang penting.
2. Kualitas:
PR yang tidak relevan atau hanya bersifat repetitif mungkin tidak efektif.
3. Diferensiasi:
PR sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa yang berbeda.
4. Tujuan
yang Jelas: Setiap PR harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
5. Tidak
perlu memberikan PR, bila materi dapat diselesaikan di sekolah.
6. Memberikan
PR jangan terlalu banyak, sesuaikan dengan tujuan belajar.
7. Usahkan PR
yang diberikan hanya bentuk – bentuk kegiatan yang membutuhkan waktu lama,
dan hanya dapat dikerjakan di rumah, contoh Tugas Aplikasi Kreatif
(Mini-Proyek) atau Tugas Observasi atau Penelitian Mandiri Ringan.
8. Fleksibel
dan bijak dalam tuntutan pengumpulan tugas. Siswa yang mengerjakan tugas
diberi nilai plus, yang tidak mengerjakan tugas jangan diberi sanksi keras,
cukup dipandu dan disediakan waktu dikelas. Siswa yang sudah selesai mengerjakan
dapat melanjutkan tugas berikutnya atau diminta untuk membantu temannya sebagai
tutor sebaya.
METODE
SOSIODRAMA.
Sosiodrama adalah
semacam sandiwara atau dramatisasi tanpa skript (bahan tertulis) , tanpa latihan terlebih dahulu,
tanpa menyuruh siswa-siswa menghafal sesuatu, pokoknya adalah sesuatu masalah
sosial yang bertalian dengan hubungan antar manusia. Jadi sosiodrama pada
umumnya dilakukan sepontan berdasarkan beberapa keterangan tertentu. Sosiodrama
atau permainan ini tidak mempunyai teks yang harus dihafalkan, tidak memerlukan
persiapan yang banyak dan berlangsung hanya 3 - 5 menit saja. Di sini tidak
dipentingkan main sandiwara, akan tetapi kebanyakan bersifat menggunakan
pengalaman siswa saja.
Ada syarat yang
perlu diperhatikan ( 1) kelas itu harus menaruh perhatian atas masalah yang
dikemukakan, (2) para pelaku harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai pokok
yang dihadapi, (3) Sosiodrama ini harus dipandang sebagai alat pelajaran untuk
memahami suatu masalah sosial, bukan sebagai permainan hiburan.
Langkah-langkah
menjalankan sosiodrama.
Untuk
melaksanakan sosiodrama dapat dianjurkan langkah-langkah yang berikut :
1. Menentukan
situasi sosial yang akan disosiodramakan.
Pada mulanya
guru dapat memberikan penjelasan mengenai peranan yang harus dimainkan oleh
setiap pelaku. Bila ada suatu masalah yang menimbulkan pendapat yang
bertentangan, setiap pelaku akan memainkan pendirian yang berlainan itu.
Guru dapat
menceritakan lebih dulu situasi yang mengundang masalah - masalah sosial itu
hingga titik tertentu, artinya tanpa menjelaskannya. Kemudian ditunjuk
siswa-siswa yang memainkan peranan tertentu untuk mencapai penjelasannya
menurut konsepsi masing-masing.
2. Memilih
Pelaku
Pada sosiodrama
pertama kalinya hendaknya guru memilih siswa yang memahami baik-baik
persoalannya, yang mempunyai daya fantasi yang kuat dan yang mempunyai
kepercayaan akan dirinya.
3. Mempersiapkan
Pelaku
Setelah memahami
peranannya mereka disuruh keluar kelas selama dua tiga menit untuk mempersiapkan diri dan
memisalkan diri sebagai orang yang berada dalam situasi yang akan
diperankannya. Mereka dapat berunding sebentar tentang cara melakukannya dan
alat-alat sederhana yang diperlukan.
4. Mempersiapkan
Para "Penonton"
Sewaktu para
pelaku mempersiapkan diri, guru meminta perhatian siswa-siswa Iainnya dengan
memisalkan dirinya sebagai pelaku. Siswa - siswa diminta bertanya kepada
dirinya : andaikan saya memainkan peranan itu apakah yang akan saya lakukan?
Apakah para pelaku memainkan perannya
seperti dilakukan dalam kehidupan yang
sebenarnya? Siswa-siswa jangan mengharapkan sandiwara yang sempurna.
Justru karena ada kekurangannya, maka sosiodrama itu akan merangsang
siswa-siswa untuk berdiskusi nanti dan mengeluarkan pendapat masing-masing.
5. Pelaksanann
Sosiodrama
Sosiodrama
dijalankan menurut tafsiran setiap pelaku secara spontan berdasarkan pengalaman
masing-masing. Guru harus memberikan kebebasan kepada mereka dalam
pelaksanaannya. Jika ternyata sosiodrama
itu mencapai titik mati, artinya tak dapat dilanjutkan lagi, guru segera
menghentikannya. Biasanya sosiodrama jarang lebih lama dari lima menit.
6. Tindak
lanjut
Begitu
sosiodrama itu selesai seluruh siswa boleh mengeluarkan pandangannya. Tentunya
diskusi ini akan sangat menarik. Bila ada pendapat yang berbeda dengan pelaksanaan
sosiodrama tadi, maka guru dapat memberi kesempatan untuk memainkannya lagi
oleh pelaku-pelaku baru. Dengan memilih masalah yang sama atau berbeda yang
banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
METODE
DEMONTRASI
Demontrasi dapat
dilakukan oleh guru, orang lain atau anak, untuk memperlihatkan kepada seluruh
kelas mengenai suatu proses tenatang sesuatu, seperti :
1. Bagaimana
cara kerja bel listrik dalam pelajaran IPA.
2. Bagaimana
cara menempel atau okulasi dalam pelajaran Pertanian.
3. Bagaimana
cara membalut kepala dalam pelajaran Kesehatan (PPPK).
4. Bagaimana
cara menganyam sabut dalam pelajaran Prakarya.
5. Bagaimana
cara pasang rantai atau piston pada sepeda motor, dan sebagainya.
Kadang-kadang
metode demonstrasi ini dapat dirangkaikan dengan metode eksperimen seperti :
guru mendemonstrasikan suatu percobaan bagaimana caranya menyelidiki volume suatu
benda yang beraturan. Hal-hal yang perlu diperhatikan, sebelum, selama dan
sesudah demonstrasi dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1.
Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum demonstrasi
diselenggarakan, Periksalah dengan teliti apakah alat-alat yang telah tersedia
sudah lengkap dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2.
Pelajarilah dengan seksama, apakah letak dan sistem penempatan alat - alat
yang akan didemonstrasikan dapat dilihat oleh seluruh kelas.
3. Perhatikan
juga kondisi-kondisi lain yang dapat mempengaruhi jalannya demonstrasi seperti : Faktor tempat atau
ruangan, banyaknya cahaya yang maşuk dan lain-lain.
4. Tulislah
langkah-langkah demonstrasi dalam garis besarnya di papan tulis, agar
siswa-siswa lebih mudah mengikuti jalannya demonstrasi.
5. Tujuan
demonstrasi hendaknya dijelaskan pada anak-anak, sehingga perhatian mereka
dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dipandang penting.
6. Selama
demonstrasi berlangsung hendaknya guru memperhatikan hal - hal sebagai
berikut :
§
Apakah demonstrasi dapat dilihat dan diikuti
oleh setiap siswa.
§
Apakah demonstrasi berpegang pada garis-garis
beşar yang telah ditetapkan (tidak menyimpang).
§
Apakah tiap-tiap langkah yang telah ditempuh
sudah dipahami oleh siswa.
§
Apakah keterangan - keterangan guru (dapat
didengar dan dipahami siswa).
§
Apakah siswa-siswa mendapat kesempatan untuk
bertanya.
§
Apakah kepada siswa-siswa telah diberikan
petunjuk mengenai hal - hal yang perlu dicatat.
§
Apakah waktu yang tersedia dapat dipergunakan
secara efektif dan efisien.
7. Jika
demonstrasi telah selesai hendaknya diikuti dengan tindak lanjut. Tindak
lanjut dapat berupa diskusi atau siswa-siswa melatih atau melakukan sendiri
kegiatan-kegiatan sebagaimana yang diperlihatkan dalam demonstrasi. Jika
demonstrasi akan dilaksanakan siswa, guru menyiapkan Lembar Tugas dan Lembar
Pengamatan.
8. Biasakan
siswa-siswa membuat kesimpulan dari demonstrasi yang telah dilakukan.
METODE
EKSPERIMEN
Metode
eksperimen dapat digunakan baik dalam bidang pengetahuan alam maupun dalam
bidang pengetahuan sosial atau kemasyarakatan dan dapat dilakukan baik di dalam
laboratorium maupun di luar laboratorium. Metode ini mempunyai hubungan yang
erat dengan metode pemecahan masalah dan di antara kedua metode tersebut
terdapat beberapa kesamaan prinsip. Keduaduanya bertitik tolak dari suatu
masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya kedua-duanya
berpegang pada prinsip-prinsip metode ilmiah. ltulah sebabnya langkah-langkah
dalam metode eksperimen hampir sama dengan langkah-langkah dalam metode
pemecahan masalah. Adapun perbedaannya ialah, metode pemecahan masalah
nampaknya mempunyai pengertian yang lebih luas.
Dalam metode
pemecahan masalah, eksperimen itu dapat merupakan salah satu sumber data yang
diperlukan untuk membuktikan benar tidaknya suatu hipotesis. Metode eksperimen
digunakan bila dengan eksperimen itu siswa perlu diberikan pengalaman menemukan
sesuatu yang baru atau untuk menguji benar tidaknya suatu hipotesis dalam
rangka memecahkan suatu masalah.
Dari hasil
eksperimen, kita akan mendapatkan data yang dapat ditarik kesimpulan, apakah
hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan itu diterima atau di tolak. Jika
hipotesis-hipotesis ditolak, maka kita harus mencari faktor - faktor
penyebabnya.
Hasil eksperimen
lebih-lebih jika berupa hukum atau prinsip perlu diaplikasikan dalam
situasi-situasi lain untuk lebih meyakinkan kebenarannya. Misalnya mengadakan eksperimen tentang proses
terjadinya penguapan air akibat pemanasan. Air yang dijerang dalam panci akan
menguap, lalu uap berubah menjadi embun yang dapat terlihat pada tutup panci
tersebut, Sebagai contoh dari eksperimen di atas, yang hasilnya berupa suatu
prinsip yang dapat digunakan antara lain untuk menjelaskan bagaimana proses
terjadinya hujan dan embun. Dalam mempersiapkan eksperimen, langkah - langkah
sebagai berikut dapat ditempuh :
1. Merumuskan tujuan. Tujuan eksperimen
menentukan apa yang harus disamakan dan apa yang berbeda.
2. Mengemukakan
alasan mengapa kita menggunakan metode eksperimen.
3. Merumuskan
masalah dan hipotesis.
4. Menetapkan
alat-alat dan bahan-bahan apa yang diperlukan (disesuaikan dengan tujuan
eksperimen).
5. Petunjuk-petunjuk
atau informasi apa yang perlu disampaikan kepada siswa-siswa, baik sebelum
maupun selama, dan sesudah eksperimen dilakukan. Urutan kegiatan harus jelas
dan cara melakukannya harus jelas.
Dalam eksperimen
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Seperti
halnya dengan demonstrasi, eksperimen juga memerlukan suatu persiapan yang
matang. Oleh karena itu agar penyelenggaraan eksperimen tidak mengalami
kegagalan atau hambatan-hambatan, hendaknya guru berlatih atau mencobanya
dahulu.
2. Hasil
eksperimen hendaknya didiskusikan, lebih – lebih jika hasilnya berbeda-beda.
Diskusi ini merupakan salah satu tindak lanjut setelah eksperimen berakhir.
METODE
PEMECAHAN MASALAH
Sebenarnya
dengan mempelajari metode eksperimen, kita sudah dapat memahami apa yang
dimaksud dengan metode pemecahan masalah, karena langkah-langkah atau prosedur
kerja kedua metode tersebut sama. Oleh
karena itu, pemecahan masalah hanya akan dibahas dalam garis besarnya
saja. Sebagai metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi
pembinaan sikap ilmiah pada siswa-siswa. Dengan metode ini, siswa-siswa belajar
memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.
Dalam garis
besarnya langkah-langkah dalam metode pemecahan masalah dapat disarikan sebagai
berikut :
1. Menyadari
adanya masalah yang dipandang penting.
Contoh :
"Sikap atau pandangan masyarakat desa terhadap masalah kesehatan".
2. Merumuskan
masalah
Masalah di atas
kita batasi umpamanya pada : "Mengapa masih banyak masyarakat desa yang
tidak mau berobat ke Puskesmas atau dokter". (merupakan pertanyaan, harus
dijawab dalam pemecahan masalah).
3. Mengajukan
hipotesis
Beberapa
hipotesa yang diajukan anak umpamanya sebagai berikut :
§
Sebagian besar masyarakat desa tidak sanggup
menanggung biaya pengobatan meskipun biaya pengobatannya ringan.
§
Masih merasa takut untuk disuntik.
§
Kurang percaya kepada cara pengobatan menurut
ilmu kedokteran.
Seperti halnya
dalam metode eksperimen, kadang-kadang hipotesis itu tidak diperlukan. Untuk itu
kita memerlukan pertanyaan - pertanyaan sebagai hasil analisis masalah. Dengan
demikian hipotesa-hipotesa di atas dapat kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut :
“Apakah sebagian
beşar dari masyarakat deşa tidak mampu menanggung biaya pengobatan walaupun
biaya pengobatannya sangat ringan?”
“Apakah masyarakat masih merasa takut terhadap cara pengobatan menurut ilmu kedokteran?”
4.
Mengumpulkan data
Berdasarkan
hipotesis-hipotesis di atas, kemudian ditentukan teknik pengumpulan data yang
dipandang paling relevan dengan hipotesis - hipotesis tersebut. Misalnya dengan
wawancara atau angket sebagai teknik pengumpulan data. Wawancara dapat
digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang dipandang paling sesuai dengan
kondisi masyarakat desa. dengan keputusan ini maka kita dapat menyusun
alat pengumpul data berupa
"pedoman wawancara”. Setelah segala sesuatunya dipersiapkan dengan matang maka kegiatan
pengumpulan data dapat diselenggarakan.
5. Analisis
data
Data yang telah dikumpulkan kemudian disusun dan dianalisis untuk mengetahui apakah data tersebut telah cukup untuk dijadikan bahan untuk membuktikan kebenaran hipotesis di atas. Sebab ada kemungkinan, data yang telah dikumpulkan belum lengkap, sehingga untuk kelengkapan tersebut pengumpulan data perlu diselenggarakan kembali.
6. Mengambil
kesimpulan
Berdasarkan analisis data, maka kita akan dapat mengambil kesimpulan, apakah hipotesis-hipotesis itu diterima atau ditolak.
7. Aplikasi
(penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh.
Tidak jarang
kesimpulan - kesimpulan yang diperoleh
itu berupa penemuan yang bersifat aplikatif. Kesimpulan mengundang kita untuk
mengemukakan saran-saran mengenai jalan keluar dalam menanggulangi
hambatan-hambatan tertentu. Seandainya hipotesis di atas terbukti benar
umpamanya, maka saran-saran apa yang dapat kita kemukakan untuk menanggulangi
masalah-masalah tersebut, seperti : bagaimana usaha kita agar masyarakat desa
percaya kepada cara pengobatan menurut ilmu kedokteran.
8. Menilai
kembali seluruh proses pemecahan masalah
Dengan metode
pemecahan masalah kita bermaksud untuk membina dan mengembangkan sikap ilmiah
pada anak. Oleh sebab itu mereka harus dididik untuk berfikir kritis, teliti
dan obyektif. Itulah sebabnya kita harus membimbing mereka untuk menilai
kembali seluruh proses pemecahan masalah langkah demi langkah. Dengan jalan
diskusi, siswa-siswa dapat kita bimbing
untuk menilai apakah tiap-tiap langkah yang mereka tempuh sudah tepat atau
masih ada kekurangan - kekurangannya atau terdapat kesalahan.
Untuk membimbing
ke arah tersebut tentu ada beberapa cara. Salah satu di antaranya dengan cara
mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
1. Apakah
perumusan masalahnya sudah jelas?
2. Apakah
perumusan hipotesis sesuai dengan pokok masalahnya dan memungkinkan
pembuktiannya secara obyektif?
Dengan cara ini
diharapkan siswa dapat berfikir kritis dan bekerja sesuai dengan
prinsip-prinsip ilmiah.
METODE KERJA
KELOMPOK
Kerja
kelompok adalah metode mengajar untuk membawa siswa-siswa sebagai kelompok
dan secara bersama-sama berusaha untuk memecahkan suatu masalah atau melakukan
suatu tugas.
Kerja kelompok
dapat berjangka pendek atau berjangka panjang dalam hubungan dengan pengajaran
unit.
Pada dasarnya
kerja ke lompok diadakan, jika kita inginkan agar semua siswa memikirkan
sesuatu atau mengeluarkan pendapat masing-masing. Ini tidak mungkin dalam situasi kelas sebagai
keseluruhan akan tetapi harus dilakukan di dalam kelompok kecil. Dalam
menggunakan metode kerja kelompok kecil ini, kita harus melakukan
persiapan-persiapan tertentu, yakni :
1. Menentukan
masalah-masalah apa yang akan didiskusikan atau tugas dikerjakan itu harus
dirumuskan dengan jelas dan dipahami dengan baik oleh setiap siswa. Kerja
kelompok ini cara yang cepat untuk meminta pendapat seluruh kelas tentang suatu
masalah, tentang langkah-langkah unit, tentang peraturan kelas atau kegiatan
lain.
2. Memilih
saat yang tepat, misalnya ketika sedang dibicarakan sesuatu masalah yang
hangat dan tiap siswa ingin mengeluarkan pendapatnya.
3. Menentukan
peserta-peserta dalam tiap kelompok. Cara ini harus efisien dan tak boleh
banyak memakan waktu. Biasanya suatu kelompok kecil terdiri dari lima orang,
akan tetapi dapat juga tiga sampai enam orang. Bila kelompok itu terlampau
kecil sumber buah pikiran baru terlampau terbatas. Bila kelompok terlampau
besar, maka ada bahayanya misalnya sejumlah siswa berdiam diri dan tidak turut
mengeluarkan pendapatnya.
4. Menentukan
lamanya kelompok itu bekerja dan berdiskusi. Waktunya harus singkat dan
masing-masing didesak untuk berfikir dan bekerja cepat, bicara singkat dan
berpegang erat dengan pokok persoalan. Bila waktu terlampau banyak, besar
kemungkinan pembicaraan panjang melebar dan menyimpang dari inti persoalan. Tentu
tak ada salahnya guru memperpanjang waktu yang ditentukan bila ternyata, bahwa
siswa - siswa masih sibuk semuanya.
5. Menentukan
organisasi kelompok. Organisasi kelompok sederhana saja, cukup dengan
seorang ketua dan seorang penulis/pelapor. Untuk memperhemat waktu, guru dapat
menentukannya lebih dulu atau membiarkan siswa memilih ketuanya sendiri.
6. Meminta
laporan kelompok. Pelapor harus mencatat dan melaporkan secara singkat
hasil pembicaraan atau pekerjaan kelompok. la harus mampu menangkap segala
pokok pembicaraan dan merangkumkannya dalam bentuk laporan.
Cara-cara
menentukan peserta kelompok kecil.
Seperti
dikatakan di atas kelompok kecil hanya diberi waktu singkat untuk berdiskusi.
Dengan sendirinya pembentukan kelompok harus dapat dilakukan dengan cepat tanpa
banyak membuang waktu. Di sini akan dianjurkan beberapa cara pembentukan
kelompok.
1.
Pembentukan kelompok menurut tempat duduk. Siswa-siswa sebaris, apakah ke
samping, atau ke belakang dijadikan suatu kelompok, dengan jumlah lima orang
bagi setiap kelompok.
2.
Pengelompokan lebih dahulu ditentukan. Ini dapat dilakukan berdasarkan :
(a) nama-nama
menurut abjad; (b) hasil sosiometri yang memperlihatkan hubungan psikologis
antar individu, misalnya; pengelompokan atas dasar keakraban berteman. Siswa
diminta untuk menuliskan tiga temannya yang akan diundangnya seandainya ia
ulang tahun; (c) bakat dan minat siswa; (d) pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki siswa - siswa yang ada hubungannya dengan masalah yang dibicarakan
disebarkan ke dalam tiap kelompok.
3.
Pengelompokan menurut bilangan. Guru dapat menghitung siswa dari satu
sampai tujuh (bila ada 35 siswa) atau delapan (bila ada 40 siswa) sampai setiap
siswa mendapat nomor tertentu. Kemudian guru menentukan bahwa tiap nomor satu
membentuk satu kelompok, demikian pula
semua nomor dua, nomor tiga dan seterusnya sehingga terbentuk 7 - 8 kelompok menurut besar kelas.
4. Pembentukan kelompok berdasarkan kartu
nomor. Ini suatu variasi dari cara ketiga di atas. Guru membuat kartu-kartu
dan pada tiap kartu ditulisnya nomor I sampai 7 atau 8 (bergantung pada jumlah
siswa). Kartu ini dapat dikocok dan kepada setiap siswa diberikan satu nomor.
Sesudah iłu guru mengatakan, bahwa tiap nomor satu membentuk kelompok, demikian
pula nomor dua, nomor tiga, dan seterusnya. Dengan cara ini kelompok itu setiap
kali dapat berganti, sehingga siswa - siswa belajar bekerja sama dengan siswa
yang berlainan pada setiap kerja kelompok. Siswa-siswa hendaknya dibiasakan
cepat membentuk kelompok kecil dan setelah selesai diskusi segera pula kembali
kepada situasi kelas biasa tanpa kegaduhan dan membuang waktu.
5. Ada
kalanya kelas harus diorganisasi dałam bentuk kelompok - kelompok yang bekerja
sama dałam jangka panjang. Dałam pengajaran unit misalnya, suatu kelompok
baru dapat diselesaikan dałam beberapa minggu. Bila dalam kelompok jangka
pendek semua kelompok diberi tugas yang sama, maka pada kelompok jangka panjang
dałam hubungan unit, setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda yakni salah
satu bagian atau aspek dari suatu masalah penting yang luas yang dihadapi oleh
kelas sebagai keseluruhan.
Beberapa
prinsip untuk kerja kelompok yang baik.
Dałam kerja
kelompok ada kemungkinan guru terlampau banyak menguasai dan mengaturnya. Dapat
juga guru seakan - akan memberi terlampau banyak tanggung jawab kepada anak.
Kedua sikap itu hendaknya dihindarkan.
Guru sebagai pembimbing kegiatan belajar di dalam kelas harus memegang peranan
yang bertanggung jawab. Ini mungkin jika ia menyadari prinsip-prinsip kerja
kelompok yang baik sebagai berikut :
1. Kerja
kelompok yang baik harus didasarkan atas masalah, tujuan dan rencana
menurut pandangan siswa. Artinya mereka harus merasakan masalah itu penting
bagi mereka.
2. Dałam
kerja kelompok yang baik, setiap siswa merasakan dirinya sebagai peserta yang penting yang sanggup
memberikan sumbangan berupa pikiran atau apa saja yang berkenaan dengan pokok
yang dihadapi.
3. Dałam
kerja kelompok yang baik tanggungjawab harus dibagi-bagikan kepada kelompok
maupun kepada individu, sesuai dengan
tujuan yang hendak dicapai.
4. Dałam
kerja kelompok yang baik, guru mengajar siswa tentang cara kerja sama yang baik.
Siswa harus tahu tentang cara berdiskusi, mengeluarkan pikiran, mendengarkan,
menilai dan menghargai buah pikiran orang lain, mencegah terjadinya ketegangan
atau konflik, dan sebagainya. Siswa harus tahu sikap sebagai memimpin dan sikap
sebagai pihak yang dipimpin.
5. Dałam
kerja kelompok yang baik, dipelihara suasana yang demokratis, termasuk
dałam mengambil keputusan. Pendapat setiap orang hendaknya dihormati dan
ditinjau maknanya dałam mencapai penyelesaian masalah. Sekalipun pendapat
seorang siswa agak berbeda dengan yang lain, ia berhak untuk berbicara dan
mendengarkan.
6. Dałam
kerja kelompok yang baik, pemimpin kelompok hendaknya mampu menciptakan suasana
keterbukaan. Setiap peserta dapat mengeluarkan pendapat dan usaha
sebaik-baiknya. Pemimpin kelompok hendaknya jangan menguasai segala pembicaraan
dan memaksakan pendapatnya sendiri.
7. Dalam
kerja kelompok yang baik senantiasa diadakan pekan hasil kerja yang telah
diselesaikan. Peserta perlu mengetahui apa yang telah selesai dan bagaimana
hasilnya. Kesadaran akan kemajuan memberikan dorongan yang lebih besar untuk
melanjutkan pekerjaan.
8. Kerja
kelompok yang baik membawa perubahan kelakuan yang konstruktif pada anak.
Mereka belajar bekerja sama dalam menyelesaikan suatu tugas dan menimbulkan
rasa sosial yang lebih luas. Di antara para peserta terbentuk rasa persatuan
dan rasa harga menghargai.
METODE
KARYAWISATA
Metode
karyawisata adalah metode mengajar yang pelaksanaannya dilakukan dengan
mengajak siswa untuk mengamati secara langsung obyek/sasaran yang ada di
lingkungan sekitar. Metode ini mengandung unsur belajar dan unsur rekreasinya.
Metode
karyawisata digunakan apabila :
1. Sasaran
pengamatan tidak mungkin dibawa ke dalam kelas.
Dalam
pelaksanaannya, unsur belajar harus lebih besar dari unsur rekreasinya.
2. Menambah
wawasan pengetahuan siswa tentang lingkungan alam,sosial dan budaya secara
nyata.
Selain dari itu
karyawisata masih ada faedahnya, antara lain :
1. Memperoleh
pengalaman langsung. Siswa-siswa misalnya dapat melihat betapa kotornya
sungai, bagaimana taraf kesehatan masyarakat di kampung, dan adanya orang yang
tak bertempat tinggal. Pengalaman serupa ini dapat dilakukan sebagai pendahuluan
untuk suatu unit karena telah membangkitkan minat siswa. Pengalaman langsung
ini juga dapat memperdalam pengertian dan pengetahuan siswa, lebih dari pada
sekedar membaca buku. Kegiatan-kegiatan seperti menghadiri sidang pengadilan,
mengunjungi perusahaan batik, melihat orang menangkap ikan dan sebagainya,
dapat memberikan nilai tambah bagi perluasan pengetahuan atau wawasan siswa.
2. Mengumpulkan
bahan untuk pelajaran.
Dalam pengajaran
unit siswa-siswa sering disuruh mengadakan observasi, percakapan atau wawancara
dengan orang-orang tertentu dan Iain-Iain. Mereka dapat juga mengumpulkan
batu-batuan, daun-daunan dan Iain - Iain sebagai bahan untuk diperlihatkan dan
dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
3. Memperluas
minat anak.
Karyawisata
dapat menimbulkan dan memperluas minat anak terhadap obyek yang dikunjungi
misalnya perindustrian, perikanan, pertanian, kesenian, dan Iain-Iain. Dengan
kata-kata atau bacaan saja siswa sering sukar dibangkitkan, akan tetapi menyaksikan
sesuatu yang menarik dapat mempengaruhi minat mereka selanjutnya.
4. Memperkaya
pengajaran di dalam kelas.
Kata - kata
sering menghasilkan verbalisme, karyawisata memberi kesempatan kepada Siswa
untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam dari apa yang dapat dijelaskan
dengan kata-kata.
5. Membuktikan
benar tidaknya pengertian yang diperoleh di dalam kelas. Karyawisata dapat
digunakan sebagai alat untuk melihat seberapa jauh pelajaran di dalam kelas sesuai
dengan kenyataan.
PENTING UNTUK
DIPERHATIKAN.
1. Jangan
sampai metode karya wisata ini dijadikan asas manfaat dan kesannya
dipaksakan, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial siswa secara umum.
2. Pilihlah
tempat – tempat yang mudah dijangkau dengan biaya yang sederhana, dan masih
pada ruang yang relevan dengan tujuan belajar.
3.
Mengedepankan asas keterbukaan. Konsultasikan dengan orang tua siswa, guru,
kepala sekolah dan komite sekolah. Agar diketahui bersama, meminta dukungan dan
pandangan terbaik.
4. Faktor
keamanan dan keselamatan siswa, harus dijadikan prioritas utama.
3. Bila tidak
mungkin dilakukan metode karya wisata ini, masih banyak metode lain
misalkan Pembelajaran Berbasis Video (Video-Based Learning) yang akan
dipelajari nanti pada metode – metode pembelajaran modern, yang akan dipejari
pada kesempatan mendatang.
Daftar Pustaka :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. (1995).
Djamarah, S. B.
(2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, O. (1992).
Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Sudjana, N. (2021).
Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Komentar
Posting Komentar