METODIK



Penulis :
Lukman Hidayatullah, S.T., M.Pd.
Guru SMKN 2 Kota Serang.

Telah kita pelajari sebelumnya bahwa, “Didaktik Khusus” atau disebut juga “Metodik”, yakni cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan asas-asas  didaktik.

Cara mengajar suatu mata pelajaran, secara umum dapat dinyatakan berbeda – beda. Cara mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia akan berbeda dengan cara mengajar mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Walaupun tidak sepenuhnya mutlak, ada beberapa konsep atau materi yang dapat diajarkan dengan metode yang sama.

Fungsi metode mengajar dalam keseluruhan sistem pengajaran adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran. Ini berarti, tujuan pengajaran berfungsi sebagai pedoman bagi kita untuk menentukan metode mengajar yang akan kita gunakan. Jadi masalah pemilihan metode yang tepat, kuncinya terletak pada kemampuan kita dalam mengembangkan dan merumuskan tujuan pengajaran yang hendak dicapai.

Dari uraian singkat di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa langkah pertama yang harus ditempuh sebelum kita menentukan metode mengajar yang akan kita gunakan ialah merumuskan tujuan pengajaran. Langkah berikutnya ialah menentukan atau memilih metode mengajar yang secara rasional dipandang paling cocok. Dalam hal ini biasanya kita tidak menggunakan satu jenis metode, mungkin saja menggunakan beberapa metode, yang disebut dengan multi metode.

Berikut metode – metode pengajaran yang perlu diketahui :

A. METODE CERAMAH

Metode ceramah ialah suatu cara pemberian pelajaran dengan penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswa. Walaupun guru masih dapat menggunakan alat-alat peraga namun yang pokok di sini ialah berbicara. Peranan siswa dalam metode ceramah : mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok-pokok pelajaran yang dikemukakan oleh guru. Metode ceramah digunakan, apabila :

1. Guru hendak memperkenalkan pokok bahasan baru dalam hubungannya dengan apa yang telah diketahui atau yang telah dipelajari siswa (ingat asas apersepsi).

2. Guru hendak mengemukakan pokok-pokok penting (sebagai rangkuman) mengenai bahan pengajaran yang akan diberikan pada permulaan atau pada akhir pelajaran.

3. Guru hendak menjelaskan kesalahan-kesalahan umum yang dibuat oleh sebagian besar anak mengenai suatu atau beberapa masalah tertentu atau kesulitan-kesulitan yang tak dapat diatasi sendiri oleh siswa.

4. Guru hendak membangkitkan minat, semangat, sikap, dan apresiasi pada siswa terhadap sesuatu hal.

Contoh:Untuk membangkitkan minat dan apresiasi pada siswa terhadap pengajaran sejarah nasional umpamanya (termasuk pembinaan terhadap semangat patriotisme dan kesadaran nasional), guru dengan ceramahnya yang berapi-api menjelaskan kepada siswa bagaimana bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaanya.

5. Keadaan tidak memungkinkan digunakan metode-metode mengajar yang Iain karena faktor - faktor tertentu seperti tidak adanya atau sangat kurangnya sumber informasi yang dapat diperoleh anak dan guru menghadapi jumlah siswa yang terlalu besar.

6. Usaha untuk meningkatkan efektifitas. Metode ceramah dapat divariasikan dengan kegiatan tanya jawab untuk membangkitkan minat perhatian siswa.

 

B. METODE DISKUSI

Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dalam rangka mencari jawaban/penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Diskusi dapat dikelompokkan menjadi diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, diskusi terpimpin maupun tanpa dipimpin oleh guru. Metode ini sangat efektif untuk melatih keberanian dan keterampilan anak dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapat. Tetapi sebelumnya, siswa harus diarahkan, dibimbing, dan tentunya dibekali pengetahuan yang cukup oleh guru melalui pemberian materi dan informasi, baik daring maupun luring. Dan guru harus dapat mengukur kemampuan berbahasa siswa apakah sudah memadai. Sebagaimana contoh, siswa SD kelas 1 sampai kelas 4 pada dasarnya kemampuan diskusi siswa masih sangat lemah. Siswa Kelas 5-6 SD (Usia 10-12 Tahun) sudah mulai matang dalam berpikir dan berinteraksi, sehingga sudah dapat diterapkan metode diskusi.

Bahan yang didiskusikan juga harus sesuai dengan jangkauan materi, Lon atau Logaritma dalam matematik tidak cocok didiskusikan, guru harus mampu menetapkan materi atau bagian apa saja yang dapat didiskusikan itu. Secara umum, konsep-konsep yang bersifat kompleks, multi-interpretasi, membutuhkan analisis mendalam, atau terkait dengan pemecahan masalah, tentunya cocok untuk didiskusikan, sebagaimana contoh :

1. Isu Sosial, Ekonomi, dan Politik Kontemporer:

Misalnya, dampak media sosial terhadap masyarakat, perubahan iklim, isu-isu keadilan sosial, kebijakan pemerintah, atau perkembangan ekonomi global. Diskusi ini membantu siswa menghubungkan teori dengan realitas.

2. Analisis Teks Sastra dan Sejarah:

Menganalisis motif karakter dalam novel, makna di balik puisi, atau berbagai perspektif terhadap suatu peristiwa sejarah. Ini mendorong interpretasi mendalam dan pemahaman nuansa.

3. Konsep-konsep Filsafat dan Etika:

Mendiskusikan dilema moral, konsep keadilan, kebebasan, atau tujuan hidup. Topik ini seringkali tidak memiliki jawaban tunggal, sehingga diskusi menjadi sarana eksplorasi.

4. Pemecahan Masalah dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA):

Pada matematik dan IPA ini, diskusi dapat digunakan untuk membahas strategi pemecahan masalah yang berbeda, menganalisis data percobaan, atau membahas implikasi etis dari penemuan ilmiah (misalnya, rekayasa genetika).

5. Perbandingan Teori atau Paradigma:

Dalam pelajaran seperti Sosiologi, Geografi, atau Ekonomi, membandingkan berbagai teori atau pendekatan terhadap suatu fenomena.

 

SELANJUTNYA : berkaitan dengan hal – hal penyelenggaraan metode diskusi :

PERANAN PEMIMPIN DISKUSI :

Guru atau seorang siswa sebagai pemimpin diskusi mempunyai peranan sebagai berikut : 

1. Sebagai Pengatur Lalu Lintas

Bertugas mengatur jalannya diskusi agar menjadi lancar:

a. Dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada anggota kelompok tertentu.

b. Menjaga agar anggota berbicara menurut giliran (tidak serentak).   Menjaga agar diskusi tidak dikuasai oleh siswa-siswa tertentu yang gemar bicara.

c. Memberi kesempatan kepada siswa-siswa tertentu (misalnya yang pemalu) untuk mengemukakan pendapatnya.

d. Mengatur pembicaraan agar didengar oleh semua anggota.

 

2. Sebagai Dinding Penangkis

Di sini tugas pemimpin diskusi ialah menerima pertanyaan-pertanyaan dari anggota kemudian melemparkannya kembali kepada anggota. Jangan sampai terjadi tanya jawab antar kelompok kecil saja. Usahakan seluruh anggota kelompok aktif berpartisipasi.

 

3. Sebagai Penunjuk Jalan

Tugas pemimpin di sini ialah memberikan pengarahan kepada anggota tentang masalah yang akan didiskusikan sehingga dengan demikian tidak timbul pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung. Oleh sebab itu ruang lingkup diskusi harus jelas.

 

C. METODE TANYA JAWAB

Metode tanya jawab adalah strategi pembelajaran yang melibatkan komunikasi dua arah antara guru dan siswa (atau sebaliknya) melalui pengajuan pertanyaan dan pemberian jawaban. Dalam metode ini, guru mengajukan pertanyaan untuk memancing pemikiran siswa, mengecek pemahaman, atau merangsang diskusi, dan siswa memberikan respons. Sebaliknya, siswa juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada guru atau sesama teman jika ada hal yang belum dipahami.

Ciri utama metode ini adalah adanya interaksi langsung dan timbal balik yang memungkinkan guru dan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Metode ini harus mengalir dan terbangun secara alamiah, tidak ada penekanan atau prosedur yang ketat. Metode tanya jawab dipergunakan jika :

1. Guru hendak meletakkan hubungan antara pelajaran yang lalu atau pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan materi baru  (apersepsi).

2. Guru hendak membangkitkan perhatian dan semangat belajar anak pada saat suasana kelas menunjukkan kelesuan.

3. Guru hendak mendorong aktivitas dan partisipasi dari semua anak (dengan pertanyaan setiap siswa terpaksa aktif berfikir dan mengingat)

4. Guru hendak mendorong keberanian siswa untuk  mengemukakan pikirannya.

5. Menjelang akhir pelajaran guru ingin mengetahui sejauh  mana bahan pengajaran telah dipahami siswa dalam garis besarnya.

6. Guru hendak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal - hal yang belum dipahaminya, baik yang berhubungan dengan pelajaran yang lalu maupun yang dengan pelajaran yang sedang dibicarakan. Guru harus menyiapkan suatu kondisi agar siswa suka dan biasa bertanya.

 

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian di dalam  penyelenggaraan tanya-jawab :

1. Pertanyaan hendaknya ditujukan kepada kelas, sehingga setiap siswa merasa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan.

2. Pertanyaan-pertanyaan hendaknya tidak keluar dari ruang lingkup bahan pengajaran yang telah diajarkan.

3. Pertanyaan-pertanyaan hendaknya mencakup dan mewakili tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

4. Bahan yang ditanyakan cukup dipilih mengenai pokok-pokok yang penting saja.

5. Pertanyaan hendaknya berupa kalimat tanya yang singkat dan jelas batas-batasnya, sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang bermacam - macam dan memungkinkan berbagai jawaban.

6. Guru hendaknya membimbing dan mengarahkan pengamatan atau pemikiran siswa terhadap sesuatu hal yang sedang dihadapi.

7. Setiap pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu pokok pikiran.

8. Pertanyaan berbentuk uraian. Oleh sebab itu jawabannya pun harus berbentuk uraian pula.

9. Pertanyaan hendaknya diajukan ketika suasana kelas dalam keadaan tenang dan siswa-siswa telah menunjukkan kesiapan mental.

10. Setiap jawaban anak hendaknya dihargai, jangan sampai mempunyai kesan bahwa jawabannya tidak dihargai. Lebih-lebih kalau salah, guru hendaklah bijaksana dalam menghargainya.

11. Dalam hubungan dengan pertanyaan dari siswa, guru hendaknya berusaha membangkitkan keberanian siswa untuk bertanya.

12. Guru hendaknya memberi petunjuk bagaimana cara mengajukan pertanyaan yang baik.

13. Sebelum guru menjawab pertanyaan siswa, lebih baik pertanyaan itu diajukan terlebih dulu kepada kelas. Jika kemudian ternyata tak seorang pun dapat menjawabnya, baru gurulah yang menjawabnya secara tidak langsung.

14. Guru harus menguasai beberapa teknik bertanya sesuai tujuannya. Untuk memancing berfikir kreatif, guru mengajukan pertanyaan terbuka, profokatif dan lain-lain. Misalnya, apa saja yang dapat dijadikan makanan pokok? (pertanyaan terbuka). Apa yang terjadi jika tidak ada orang yang mau menjadi guru? (pertanyaan profokatif).

 

METODE LATIHAN SIAP (DRILL)

Latihan siap atau drill sangat sesuai untuk melatih keterampilan, baik keterampilan fisik maupun keterampilan mental. Karena hanya dengan latihan, suatu keterampilan dapat dikuasai. Drill berhubungan dengan pembentukan asosiasi-asosiasi mental yang siap untuk direproduksi seperti : definisi-definisi, tahun-tahun, simbol-simbol, rumus-rumus dan perbendaharaan kata atau kosa kata.

Latihan atau "practice" mempunyai pengertian yang lebih luas daripada drill. Latihan atau praktek berhubungan dengan pembentukan kemahiran atau kecakapan, apakah itu suatu kemahiran yang bersifat motoris (fisik) ataukah suatu kemahiran yang bersifat penyesuaian seperti : kemahiran untuk memecahkan suatu soal atau kecakapan dalam penyesuaian diri terhadap suatu situasi. Dalam melaksanakan latihan siap, langkah-langkah sebagai berikut dapat ditempuh :

 

1. Sebelum latihan dilaksanakan, siswa-siswa harus diberi penjelasan mengenai arti atau manfaat dan tujuan dari latihan tersebut. Hal ini penting untuk membangkitkan motivasi belajar pada siswa-siswa dan agar latihan itu tidak bersifat verbalistis atau bersifat mekanistis.

2. Latihan hendaknya dilakukan secara bertahap,dimulai dari yang sederhana kemudian meningkat ke taraf yang lebih kompleks atau sulit.

3. Prinsip-prinsip dasar pengerjaan latihan hendaknya telah diberikan kepada anak.

4. Selama latihan berlangsung, perhatikanlah bagian-bagian mana yang oleh sebagian besar siswa dirasakan sulit.

5. Latihan pada bagian-bagian yang dipandang sulit itu hendaknya lebih  intensif. Pergunakanlah kalau ada alat-alat pelajaran yang dapat membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

6. Perbedaan individual siswa perlu diperhatikan. Kesulitan yang dialami oleh seorang siswa perlu mendapat bantuan secara khusus pula.

7. Jika suatu latihan telah dikuasai siswa, taraf berikutnya adalah  aplikasinya. Oleh karena itu diusahakan agar konsep yang dilatihkan ada  hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

 

METODE TUGAS (RESITASI)

Istilah ”PR" atau pekerjaan rumah telah dikenal secara luas dan dipandang sebagai penggunaan metode tugas. Namun pengertian metode tugas mempunyai ruang lingkup yang jauh lebih luas dari pada pekerjaan rumah semata. Pada prinsipnya metode tugas adalah suatu metode mengajar, dengan metode ini guru membelajarkan siswa-siswanya dengan memberi  tugas kepada mereka untuk diselesaikan dan dipertanggungjawabkan. Tugas tersebut dapat diberikan kepada siswa-siswa secara perorangan, kelompok atau secara klasikal. Pengerjaannya mungkin harus dilakukan di sekolah dan atau di luar sekolah, seperti : di dalam kelas, di laboratorium, di perpustakaan di halaman atau kebun sekolah, di rumah atau di tempat-tempat lain sesuai dengan sifat dari tugas itu sendiri. Tugas itu dapat berupa : melakukan eksperimen, mengumpulkan bahan-bahan informasi, membaca atau mempelajari suatu bab atau topik tertentu dari suatu buku, mengerjakan soal-soal, menyelesaikan tugas-tugas kerajinan tangan dan lain-lain. Tugas hendaknya berhubungan dengan bahan pengajaran yang telah dipelajari anak.

Metode tugas dipergunakan apabila :

1. Suatu pokok bahasan atau aspek-aspek tertentu memerlukan latihan yang lebih banyak di luar jam pelajaran atau memerlukan penjelasan lebih lanjut melalui eksperimen atau sumber-sumber informasi lain yang lebih luas.

2. Ruang lingkup bahan pengajaran terlalu luas, sedangkan waktu yang disediakan tidak memadai. Guru hanya mampu menerangkan bahan pengajaran tersebut dalam garis besarnya saja. Bahkan sering terjadi bahan tidak dapat diselesaikan menurut waktu yang telah ditetapkan.

3. Suatu pekerjaan yang tak mungkin dapat diselesaikan selama jam pelajaran. Hal ini pada umumnya terjadi pada pelajaran-pelajaran seperti : menggambar dan pekerjaan tangan. Biasanya guru memberikan tugas  kepada siswa-siswa untuk menyelesaikannya di rumah.

4. Dalam keadaan darurat, misalnya karena sesuatu hal guru tidak dapat mengajar baik untuk sebagian maupun seluruh jam pelajaran, sedangkan  guru lain tidak dapat menggantikannya.

5. Suatu pokok bahasan perlu pendalaman/perhatian melalui latihan mandiri.

 

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian :

1. Janganlah memberikan tugas yang berhubungan dengan bahan pengajaran yang belum diajarkan, kecuali sebagai bahan yang akan diajarkan, misalnya kliping.

2. Tugas hendaknya dirasakan penting oleh setiap siswa.

3. Tugas hendaknya jelas batas-batasnya.

4. Usahakan mempersiapkan format atau lembar kerja yang diperlukan.

5. Guru hendaknya mempelajari dengan sungguh-sungguh, apakah suatu tugas dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa secara perorangan atau tidak.

6. Perhatikan juga waktu yang ada pada siswa-siswa. Dalam hubungan ini, selidiki pula apakah siswa-siswa mendapat tugas dari guru-guru lain   yang menuntut penyelesaian dalam waktu yang relatif bersamaan atau berdekatan dengan tugas yang kita berikan. Oleh karena itu guru harus mempunyai ancang-ancang waktu, misalnya : mata pelajaran IPA di kelas, 4 x 40 menit satu minggu, maka tugas yang diberikan harus dapat diselesaikan siswa 30/ 100 x 160 = 48 menit. Kalau 2 kali memberi tugas, maka setiap kali tugas dapat diselesaikan siswa 24 menit.

7. Tugas (PR) hendaknya diperiksa sendiri oleh guru dan jangan diperiksa oleh siswa, agar guru dapat mengetahui sampai dimana kemampuan anak dalam memahami/mendalami materi yang telah diberikan.

Sebuah Catatan Penting !

Penting untuk dicatat bahwa implementasi PR yang efektif memerlukan pertimbangan. Beberapa hal yang sering menjadi perhatian adalah:

1. Kuantitas: Terlalu banyak PR dapat menyebabkan stres dan mengurangi waktu siswa untuk kegiatan lain yang penting.

2. Kualitas: PR yang tidak relevan atau hanya bersifat repetitif mungkin tidak efektif.

3. Diferensiasi: PR sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa yang berbeda.

4. Tujuan yang Jelas: Setiap PR harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

5. Tidak perlu memberikan PR, bila materi dapat diselesaikan di sekolah.

6. Memberikan PR jangan terlalu banyak, sesuaikan dengan tujuan belajar.

7. Usahkan PR yang diberikan hanya bentuk – bentuk kegiatan yang membutuhkan waktu lama, dan hanya dapat dikerjakan di rumah, contoh Tugas Aplikasi Kreatif (Mini-Proyek) atau Tugas Observasi atau Penelitian Mandiri Ringan.

8. Fleksibel dan bijak dalam tuntutan pengumpulan tugas. Siswa yang mengerjakan tugas diberi nilai plus, yang tidak mengerjakan tugas jangan diberi sanksi keras, cukup dipandu dan disediakan waktu dikelas. Siswa yang sudah selesai mengerjakan dapat melanjutkan tugas berikutnya atau diminta untuk membantu temannya sebagai tutor sebaya.

 

METODE SOSIODRAMA.

Sosiodrama adalah semacam sandiwara atau dramatisasi tanpa skript (bahan   tertulis) , tanpa latihan terlebih dahulu, tanpa menyuruh siswa-siswa menghafal sesuatu, pokoknya adalah sesuatu masalah sosial yang bertalian dengan hubungan antar manusia. Jadi sosiodrama pada umumnya dilakukan sepontan berdasarkan beberapa keterangan tertentu. Sosiodrama atau permainan ini tidak mempunyai teks yang harus dihafalkan, tidak memerlukan persiapan yang banyak dan berlangsung hanya 3 - 5 menit saja. Di sini tidak dipentingkan main sandiwara, akan tetapi kebanyakan bersifat menggunakan pengalaman siswa saja.

Ada syarat yang perlu diperhatikan ( 1) kelas itu harus menaruh perhatian atas masalah yang dikemukakan, (2) para pelaku harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai pokok yang dihadapi, (3) Sosiodrama ini harus dipandang sebagai alat pelajaran untuk memahami suatu masalah sosial, bukan sebagai permainan hiburan.

Langkah-langkah menjalankan sosiodrama.

Untuk melaksanakan sosiodrama dapat dianjurkan langkah-langkah yang berikut :

1. Menentukan situasi sosial yang akan disosiodramakan.

Pada mulanya guru dapat memberikan penjelasan mengenai peranan yang harus dimainkan oleh setiap pelaku. Bila ada suatu masalah yang menimbulkan pendapat yang bertentangan, setiap pelaku akan memainkan pendirian yang berlainan itu.

Guru dapat menceritakan lebih dulu situasi yang mengundang masalah - masalah sosial itu hingga titik tertentu, artinya tanpa menjelaskannya. Kemudian ditunjuk siswa-siswa yang memainkan peranan tertentu untuk mencapai penjelasannya menurut konsepsi masing-masing.

2. Memilih Pelaku

Pada sosiodrama pertama kalinya hendaknya guru memilih siswa yang memahami baik-baik persoalannya, yang mempunyai daya fantasi yang kuat dan yang mempunyai kepercayaan akan dirinya.

3. Mempersiapkan Pelaku

Setelah memahami peranannya mereka disuruh keluar kelas selama dua  tiga menit untuk mempersiapkan diri dan memisalkan diri sebagai orang yang berada dalam situasi yang akan diperankannya. Mereka dapat berunding sebentar tentang cara melakukannya dan alat-alat sederhana yang diperlukan.

4. Mempersiapkan Para "Penonton"

Sewaktu para pelaku mempersiapkan diri, guru meminta perhatian siswa-siswa Iainnya dengan memisalkan dirinya sebagai pelaku. Siswa - siswa diminta bertanya kepada dirinya : andaikan saya memainkan peranan itu apakah yang akan saya lakukan? Apakah para pelaku  memainkan perannya seperti dilakukan dalam kehidupan yang  sebenarnya? Siswa-siswa jangan mengharapkan sandiwara yang sempurna. Justru karena ada kekurangannya, maka sosiodrama itu akan merangsang siswa-siswa untuk berdiskusi nanti dan mengeluarkan pendapat masing-masing.

5. Pelaksanann Sosiodrama

Sosiodrama dijalankan menurut tafsiran setiap pelaku secara spontan berdasarkan pengalaman masing-masing. Guru harus memberikan kebebasan kepada mereka dalam pelaksanaannya. Jika ternyata sosiodrama  itu mencapai titik mati, artinya tak dapat dilanjutkan lagi, guru segera menghentikannya. Biasanya sosiodrama jarang lebih lama dari lima menit.

6. Tindak lanjut

Begitu sosiodrama itu selesai seluruh siswa boleh mengeluarkan pandangannya. Tentunya diskusi ini akan sangat menarik. Bila ada pendapat yang berbeda dengan pelaksanaan sosiodrama tadi, maka guru dapat memberi kesempatan untuk memainkannya lagi oleh pelaku-pelaku baru. Dengan memilih masalah yang sama atau berbeda yang banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari.

 

METODE DEMONTRASI

Demontrasi dapat dilakukan oleh guru, orang lain atau anak, untuk memperlihatkan kepada seluruh kelas mengenai suatu proses tenatang sesuatu, seperti :

1. Bagaimana cara kerja bel listrik dalam pelajaran IPA.

2. Bagaimana cara menempel atau okulasi dalam pelajaran Pertanian.

3. Bagaimana cara membalut kepala dalam pelajaran Kesehatan (PPPK).

4. Bagaimana cara menganyam sabut dalam pelajaran Prakarya.

5. Bagaimana cara pasang rantai atau piston pada sepeda motor, dan sebagainya.

Kadang-kadang metode demonstrasi ini dapat dirangkaikan dengan metode eksperimen seperti : guru mendemonstrasikan suatu percobaan bagaimana caranya menyelidiki volume suatu benda yang beraturan. Hal-hal yang perlu diperhatikan, sebelum, selama dan sesudah demonstrasi dilaksanakan adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum demonstrasi diselenggarakan, Periksalah dengan teliti apakah alat-alat yang telah tersedia sudah lengkap dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Pelajarilah dengan seksama, apakah letak dan sistem penempatan alat - alat yang akan didemonstrasikan dapat dilihat oleh seluruh kelas.

3. Perhatikan juga kondisi-kondisi lain yang dapat mempengaruhi jalannya  demonstrasi seperti : Faktor tempat atau ruangan, banyaknya cahaya yang maşuk dan lain-lain.

4. Tulislah langkah-langkah demonstrasi dalam garis besarnya di papan tulis, agar siswa-siswa lebih mudah mengikuti jalannya demonstrasi.

5. Tujuan demonstrasi hendaknya dijelaskan pada anak-anak, sehingga perhatian mereka dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dipandang penting.

6. Selama demonstrasi berlangsung hendaknya guru memperhatikan hal - hal sebagai berikut :

§  Apakah demonstrasi dapat dilihat dan diikuti oleh setiap siswa.

§  Apakah demonstrasi berpegang pada garis-garis beşar yang telah ditetapkan (tidak menyimpang).

§  Apakah tiap-tiap langkah yang telah ditempuh sudah dipahami oleh siswa.

§  Apakah keterangan - keterangan guru (dapat didengar dan dipahami siswa).

§  Apakah siswa-siswa mendapat kesempatan untuk bertanya.

§  Apakah kepada siswa-siswa telah diberikan petunjuk mengenai hal - hal yang perlu dicatat.

§  Apakah waktu yang tersedia dapat dipergunakan secara efektif dan efisien.

7. Jika demonstrasi telah selesai hendaknya diikuti dengan tindak lanjut. Tindak lanjut dapat berupa diskusi atau siswa-siswa melatih atau melakukan sendiri kegiatan-kegiatan sebagaimana yang diperlihatkan dalam demonstrasi. Jika demonstrasi akan dilaksanakan siswa, guru menyiapkan Lembar Tugas dan Lembar Pengamatan.

8. Biasakan siswa-siswa membuat kesimpulan dari demonstrasi yang telah dilakukan.

 

METODE EKSPERIMEN

Metode eksperimen dapat digunakan baik dalam bidang pengetahuan alam maupun dalam bidang pengetahuan sosial atau kemasyarakatan dan dapat dilakukan baik di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium. Metode ini mempunyai hubungan yang erat dengan metode pemecahan masalah dan di antara kedua metode tersebut terdapat beberapa kesamaan prinsip. Keduaduanya bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya kedua-duanya berpegang pada prinsip-prinsip metode ilmiah. ltulah sebabnya langkah-langkah dalam metode eksperimen hampir sama dengan langkah-langkah dalam metode pemecahan masalah. Adapun perbedaannya ialah, metode pemecahan masalah nampaknya mempunyai pengertian yang lebih luas.

Dalam metode pemecahan masalah, eksperimen itu dapat merupakan salah satu sumber data yang diperlukan untuk membuktikan benar tidaknya suatu hipotesis. Metode eksperimen digunakan bila dengan eksperimen itu siswa perlu diberikan pengalaman menemukan sesuatu yang baru atau untuk menguji benar tidaknya suatu hipotesis dalam rangka memecahkan suatu masalah.

Dari hasil eksperimen, kita akan mendapatkan data yang dapat ditarik kesimpulan, apakah hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan itu diterima atau di tolak. Jika hipotesis-hipotesis ditolak, maka kita harus mencari faktor - faktor penyebabnya.

Hasil eksperimen lebih-lebih jika berupa hukum atau prinsip perlu diaplikasikan dalam situasi-situasi lain untuk lebih meyakinkan kebenarannya.  Misalnya mengadakan eksperimen tentang proses terjadinya penguapan air akibat pemanasan. Air yang dijerang dalam panci akan menguap, lalu uap berubah menjadi embun yang dapat terlihat pada tutup panci tersebut, Sebagai contoh dari eksperimen di atas, yang hasilnya berupa suatu prinsip yang dapat digunakan antara lain untuk menjelaskan bagaimana proses terjadinya hujan dan embun. Dalam mempersiapkan eksperimen, langkah - langkah sebagai berikut dapat ditempuh :

 1. Merumuskan tujuan. Tujuan eksperimen menentukan apa yang harus disamakan dan apa yang berbeda.

2. Mengemukakan alasan mengapa kita menggunakan metode eksperimen.

3. Merumuskan masalah dan hipotesis.

4. Menetapkan alat-alat dan bahan-bahan apa yang diperlukan (disesuaikan dengan tujuan eksperimen).

5. Petunjuk-petunjuk atau informasi apa yang perlu disampaikan kepada siswa-siswa, baik sebelum maupun selama, dan sesudah eksperimen dilakukan. Urutan kegiatan harus jelas dan cara melakukannya harus jelas.

 

Dalam eksperimen perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Seperti halnya dengan demonstrasi, eksperimen juga memerlukan suatu persiapan yang matang. Oleh karena itu agar penyelenggaraan eksperimen tidak mengalami kegagalan atau hambatan-hambatan, hendaknya guru berlatih atau mencobanya dahulu.

2. Hasil eksperimen hendaknya didiskusikan, lebih – lebih jika hasilnya berbeda-beda. Diskusi ini merupakan salah satu tindak lanjut setelah eksperimen berakhir.

 

METODE PEMECAHAN MASALAH

Sebenarnya dengan mempelajari metode eksperimen, kita sudah dapat memahami apa yang dimaksud dengan metode pemecahan masalah, karena langkah-langkah atau prosedur kerja kedua metode tersebut sama. Oleh   karena itu, pemecahan masalah hanya akan dibahas dalam garis besarnya saja. Sebagai metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada siswa-siswa. Dengan metode ini, siswa-siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.

Dalam garis besarnya langkah-langkah dalam metode pemecahan masalah dapat disarikan sebagai berikut :

1. Menyadari adanya masalah yang dipandang penting.

Contoh : "Sikap atau pandangan masyarakat desa terhadap masalah kesehatan".

2. Merumuskan masalah

Masalah di atas kita batasi umpamanya pada : "Mengapa masih banyak masyarakat desa yang tidak mau berobat ke Puskesmas atau dokter". (merupakan pertanyaan, harus dijawab dalam pemecahan masalah).

3. Mengajukan hipotesis

Beberapa hipotesa yang diajukan anak umpamanya sebagai berikut :

§  Sebagian besar masyarakat desa tidak sanggup menanggung biaya pengobatan meskipun biaya pengobatannya ringan.

§  Masih merasa takut untuk disuntik.

§  Kurang percaya kepada cara pengobatan menurut ilmu kedokteran.

Seperti halnya dalam metode eksperimen, kadang-kadang hipotesis itu tidak diperlukan. Untuk itu kita memerlukan pertanyaan - pertanyaan sebagai hasil analisis masalah. Dengan demikian hipotesa-hipotesa di atas dapat kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

“Apakah sebagian beşar dari masyarakat deşa tidak mampu menanggung biaya pengobatan walaupun biaya pengobatannya sangat ringan?” 

“Apakah masyarakat masih merasa takut terhadap cara pengobatan menurut ilmu kedokteran?”

4. Mengumpulkan data

Berdasarkan hipotesis-hipotesis di atas, kemudian ditentukan teknik pengumpulan data yang dipandang paling relevan dengan hipotesis - hipotesis tersebut. Misalnya dengan wawancara atau angket sebagai teknik pengumpulan data. Wawancara dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang dipandang paling sesuai dengan kondisi masyarakat desa. dengan keputusan ini maka kita dapat menyusun alat   pengumpul data berupa "pedoman wawancara”. Setelah segala sesuatunya  dipersiapkan dengan matang maka kegiatan pengumpulan data dapat diselenggarakan.

5. Analisis data

Data yang telah dikumpulkan kemudian disusun dan dianalisis untuk mengetahui apakah data tersebut telah cukup untuk dijadikan bahan untuk membuktikan kebenaran hipotesis di atas. Sebab ada kemungkinan, data yang telah dikumpulkan belum lengkap, sehingga untuk kelengkapan tersebut pengumpulan data perlu diselenggarakan kembali.

6. Mengambil kesimpulan

Berdasarkan analisis data, maka kita akan dapat mengambil kesimpulan, apakah hipotesis-hipotesis itu diterima atau ditolak.

7. Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh.

Tidak jarang kesimpulan  - kesimpulan yang diperoleh itu berupa penemuan yang bersifat aplikatif. Kesimpulan mengundang kita untuk mengemukakan saran-saran mengenai jalan keluar dalam menanggulangi hambatan-hambatan tertentu. Seandainya hipotesis di atas terbukti benar umpamanya, maka saran-saran apa yang dapat kita kemukakan untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut, seperti : bagaimana usaha kita agar masyarakat desa percaya kepada cara pengobatan menurut ilmu kedokteran.

8. Menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah

Dengan metode pemecahan masalah kita bermaksud untuk membina dan mengembangkan sikap ilmiah pada anak. Oleh sebab itu mereka harus dididik untuk berfikir kritis, teliti dan obyektif. Itulah sebabnya kita harus membimbing mereka untuk menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah langkah demi langkah. Dengan jalan diskusi,  siswa-siswa dapat kita bimbing untuk menilai apakah tiap-tiap langkah yang mereka tempuh sudah tepat atau masih ada kekurangan - kekurangannya atau terdapat kesalahan.

Untuk membimbing ke arah tersebut tentu ada beberapa cara. Salah satu di antaranya dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :

1. Apakah perumusan masalahnya sudah jelas?

2. Apakah perumusan hipotesis sesuai dengan pokok masalahnya dan memungkinkan pembuktiannya secara obyektif?

Dengan cara ini diharapkan siswa dapat berfikir kritis dan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah.

 

METODE KERJA KELOMPOK

Kerja kelompok adalah metode mengajar untuk membawa siswa-siswa sebagai kelompok dan secara bersama-sama berusaha untuk memecahkan suatu masalah atau melakukan suatu tugas.

Kerja kelompok dapat berjangka pendek atau berjangka panjang dalam hubungan dengan pengajaran unit.

Pada dasarnya kerja ke lompok diadakan, jika kita inginkan agar semua siswa memikirkan sesuatu atau mengeluarkan pendapat masing-masing.  Ini tidak mungkin dalam situasi kelas sebagai keseluruhan akan tetapi harus dilakukan di dalam kelompok kecil. Dalam menggunakan metode kerja kelompok kecil ini, kita harus melakukan persiapan-persiapan tertentu, yakni :

1. Menentukan masalah-masalah apa yang akan didiskusikan atau tugas dikerjakan itu harus dirumuskan dengan jelas dan dipahami dengan baik oleh setiap siswa. Kerja kelompok ini cara yang cepat untuk meminta pendapat seluruh kelas tentang suatu masalah, tentang langkah-langkah unit, tentang peraturan kelas atau kegiatan lain.

2. Memilih saat yang tepat, misalnya ketika sedang dibicarakan sesuatu masalah yang hangat dan tiap siswa ingin mengeluarkan pendapatnya.

3. Menentukan peserta-peserta dalam tiap kelompok. Cara ini harus efisien dan tak boleh banyak memakan waktu. Biasanya suatu kelompok kecil terdiri dari lima orang, akan tetapi dapat juga tiga sampai enam orang. Bila kelompok itu terlampau kecil sumber buah pikiran baru terlampau terbatas. Bila kelompok terlampau besar, maka ada bahayanya misalnya sejumlah siswa berdiam diri dan tidak turut mengeluarkan pendapatnya.

4. Menentukan lamanya kelompok itu bekerja dan berdiskusi. Waktunya harus singkat dan masing-masing didesak untuk berfikir dan bekerja cepat, bicara singkat dan berpegang erat dengan pokok persoalan. Bila waktu terlampau banyak, besar kemungkinan pembicaraan panjang melebar dan menyimpang dari inti persoalan. Tentu tak ada salahnya guru memperpanjang waktu yang ditentukan bila ternyata, bahwa siswa - siswa masih sibuk semuanya.

5. Menentukan organisasi kelompok. Organisasi kelompok sederhana saja, cukup dengan seorang ketua dan seorang penulis/pelapor. Untuk memperhemat waktu, guru dapat menentukannya lebih dulu atau membiarkan siswa memilih ketuanya sendiri.

6. Meminta laporan kelompok. Pelapor harus mencatat dan melaporkan secara singkat hasil pembicaraan atau pekerjaan kelompok. la harus mampu menangkap segala pokok pembicaraan dan merangkumkannya dalam bentuk laporan.

 

Cara-cara menentukan peserta kelompok kecil.

Seperti dikatakan di atas kelompok kecil hanya diberi waktu singkat untuk berdiskusi. Dengan sendirinya pembentukan kelompok harus dapat dilakukan dengan cepat tanpa banyak membuang waktu. Di sini akan dianjurkan beberapa cara pembentukan kelompok.

1. Pembentukan kelompok menurut tempat duduk. Siswa-siswa sebaris, apakah ke samping, atau ke belakang dijadikan suatu kelompok, dengan jumlah lima orang bagi setiap kelompok. 

2. Pengelompokan lebih dahulu ditentukan. Ini dapat dilakukan berdasarkan :

(a) nama-nama menurut abjad; (b) hasil sosiometri yang memperlihatkan hubungan psikologis antar individu, misalnya; pengelompokan atas dasar keakraban berteman. Siswa diminta untuk menuliskan tiga temannya yang akan diundangnya seandainya ia ulang tahun; (c) bakat dan minat siswa; (d) pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki siswa - siswa yang ada hubungannya dengan masalah yang dibicarakan disebarkan ke dalam tiap kelompok.

3. Pengelompokan menurut bilangan. Guru dapat menghitung siswa dari satu sampai tujuh (bila ada 35 siswa) atau delapan (bila ada 40 siswa) sampai setiap siswa mendapat nomor tertentu. Kemudian guru menentukan bahwa tiap nomor satu membentuk satu kelompok, demikian  pula semua nomor dua, nomor tiga dan seterusnya sehingga terbentuk 7  - 8 kelompok menurut besar kelas.

 4. Pembentukan kelompok berdasarkan kartu nomor. Ini suatu variasi dari cara ketiga di atas. Guru membuat kartu-kartu dan pada tiap kartu ditulisnya nomor I sampai 7 atau 8 (bergantung pada jumlah siswa). Kartu ini dapat dikocok dan kepada setiap siswa diberikan satu nomor. Sesudah iłu guru mengatakan, bahwa tiap nomor satu membentuk kelompok, demikian pula nomor dua, nomor tiga, dan seterusnya. Dengan cara ini kelompok itu setiap kali dapat berganti, sehingga siswa - siswa belajar bekerja sama dengan siswa yang berlainan pada setiap kerja kelompok. Siswa-siswa hendaknya dibiasakan cepat membentuk kelompok kecil dan setelah selesai diskusi segera pula kembali kepada situasi kelas biasa tanpa kegaduhan dan membuang waktu.

5. Ada kalanya kelas harus diorganisasi dałam bentuk kelompok - kelompok yang bekerja sama dałam jangka panjang. Dałam pengajaran unit misalnya, suatu kelompok baru dapat diselesaikan dałam beberapa minggu. Bila dalam kelompok jangka pendek semua kelompok diberi tugas yang sama, maka pada kelompok jangka panjang dałam hubungan unit, setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda yakni salah satu bagian atau aspek dari suatu masalah penting yang luas yang dihadapi oleh kelas sebagai keseluruhan.

 

Beberapa prinsip untuk kerja kelompok yang baik.

Dałam kerja kelompok ada kemungkinan guru terlampau banyak menguasai dan mengaturnya. Dapat juga guru seakan - akan memberi terlampau banyak tanggung jawab kepada anak. Kedua sikap itu  hendaknya dihindarkan. Guru sebagai pembimbing kegiatan belajar di dalam kelas harus memegang peranan yang bertanggung jawab. Ini mungkin jika ia menyadari prinsip-prinsip kerja kelompok yang baik sebagai berikut :

1. Kerja kelompok yang baik harus didasarkan atas masalah, tujuan dan rencana menurut pandangan siswa. Artinya mereka harus merasakan masalah itu penting bagi mereka.

2. Dałam kerja kelompok yang baik, setiap siswa merasakan dirinya  sebagai peserta yang penting yang sanggup memberikan sumbangan berupa pikiran atau apa saja yang berkenaan dengan pokok yang  dihadapi.

3. Dałam kerja kelompok yang baik tanggungjawab harus dibagi-bagikan kepada kelompok maupun kepada individu, sesuai dengan  tujuan yang hendak dicapai.

4. Dałam kerja kelompok yang baik, guru mengajar siswa tentang cara kerja sama yang baik. Siswa harus tahu tentang cara berdiskusi, mengeluarkan pikiran, mendengarkan, menilai dan menghargai buah pikiran orang lain, mencegah terjadinya ketegangan atau konflik, dan sebagainya. Siswa harus tahu sikap sebagai memimpin dan sikap sebagai pihak yang dipimpin.

5. Dałam kerja kelompok yang baik, dipelihara suasana yang demokratis, termasuk dałam mengambil keputusan. Pendapat setiap orang hendaknya dihormati dan ditinjau maknanya dałam mencapai penyelesaian masalah. Sekalipun pendapat seorang siswa agak berbeda dengan yang lain, ia berhak untuk berbicara dan mendengarkan.

6. Dałam kerja kelompok yang baik, pemimpin kelompok hendaknya mampu menciptakan suasana keterbukaan. Setiap peserta dapat mengeluarkan pendapat dan usaha sebaik-baiknya. Pemimpin kelompok hendaknya jangan menguasai segala pembicaraan dan memaksakan pendapatnya sendiri.

7. Dalam kerja kelompok yang baik senantiasa diadakan pekan hasil kerja yang telah diselesaikan. Peserta perlu mengetahui apa yang telah selesai dan bagaimana hasilnya. Kesadaran akan kemajuan memberikan dorongan yang lebih besar untuk melanjutkan pekerjaan.

8. Kerja kelompok yang baik membawa perubahan kelakuan yang konstruktif pada anak. Mereka belajar bekerja sama dalam menyelesaikan suatu tugas dan menimbulkan rasa sosial yang lebih luas. Di antara para peserta terbentuk rasa persatuan dan rasa harga  menghargai.

 

METODE KARYAWISATA

Metode karyawisata adalah metode mengajar yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengajak siswa untuk mengamati secara langsung obyek/sasaran yang ada di lingkungan sekitar. Metode ini mengandung unsur belajar dan unsur rekreasinya.

Metode karyawisata digunakan apabila :

1. Sasaran pengamatan tidak mungkin dibawa ke dalam kelas.

Dalam pelaksanaannya, unsur belajar harus lebih besar dari unsur rekreasinya.

2. Menambah wawasan pengetahuan siswa tentang lingkungan alam,sosial dan budaya secara nyata.

Selain dari itu karyawisata masih ada faedahnya, antara lain :

1. Memperoleh pengalaman langsung. Siswa-siswa misalnya dapat melihat betapa kotornya sungai, bagaimana taraf kesehatan masyarakat di kampung, dan adanya orang yang tak bertempat tinggal. Pengalaman serupa ini dapat dilakukan sebagai pendahuluan untuk suatu unit karena telah membangkitkan minat siswa. Pengalaman langsung ini juga dapat memperdalam pengertian dan pengetahuan siswa, lebih dari pada sekedar membaca buku. Kegiatan-kegiatan seperti menghadiri sidang pengadilan, mengunjungi perusahaan batik, melihat orang menangkap ikan dan sebagainya, dapat memberikan nilai tambah bagi perluasan pengetahuan  atau wawasan siswa.

2. Mengumpulkan bahan untuk pelajaran.

Dalam pengajaran unit siswa-siswa sering disuruh mengadakan observasi, percakapan atau wawancara dengan orang-orang tertentu dan Iain-Iain. Mereka dapat juga mengumpulkan batu-batuan, daun-daunan dan Iain - Iain sebagai bahan untuk diperlihatkan dan dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

3. Memperluas minat anak.

Karyawisata dapat menimbulkan dan memperluas minat anak terhadap obyek yang dikunjungi misalnya perindustrian, perikanan, pertanian, kesenian, dan Iain-Iain. Dengan kata-kata atau bacaan saja siswa sering sukar dibangkitkan, akan tetapi menyaksikan sesuatu yang menarik dapat mempengaruhi minat mereka selanjutnya.

4. Memperkaya pengajaran di dalam kelas.

Kata - kata sering menghasilkan verbalisme, karyawisata memberi kesempatan kepada Siswa untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam dari apa yang dapat dijelaskan dengan kata-kata.

5. Membuktikan benar tidaknya pengertian yang diperoleh di dalam kelas. Karyawisata dapat digunakan sebagai alat untuk melihat seberapa jauh pelajaran di dalam kelas sesuai dengan kenyataan.

 

PENTING UNTUK DIPERHATIKAN.

1. Jangan sampai metode karya wisata ini dijadikan asas manfaat dan kesannya dipaksakan, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial siswa secara umum.

2. Pilihlah tempat – tempat yang mudah dijangkau dengan biaya yang sederhana, dan masih pada ruang yang relevan dengan tujuan belajar.

3. Mengedepankan asas keterbukaan. Konsultasikan dengan orang tua siswa, guru, kepala sekolah dan komite sekolah. Agar diketahui bersama, meminta dukungan dan pandangan terbaik.

4. Faktor keamanan dan keselamatan siswa, harus dijadikan prioritas utama.

3. Bila tidak mungkin dilakukan metode karya wisata ini, masih banyak metode lain misalkan Pembelajaran Berbasis Video (Video-Based Learning) yang akan dipelajari nanti pada metode – metode pembelajaran modern, yang akan dipejari pada kesempatan mendatang.

 

 

Daftar Pustaka :

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. (1995).

Djamarah, S. B. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, O. (1992). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Sudjana, N. (2021). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM MERDEKA

KURIKULUM KTSP

KURIKULUM 1975